Dari Dulu Sampai Sekarang
Selasa, 19 Januari 2016
Rabu, 07 Januari 2015
LAPORAN PERJALANAN STUDY TOUR JAKARTA
Gua mau share nih laporan perjalanan gua pas ke Jakarta. langsung aja nih
Setelah saya selesai melihat
tayangan film tadi, saya dan Abid segera melanjutkan ke wahana selanjutnya
yaitu pementasan lumba lumba. Di sini saya tidak harus mengantri karena diluar
tampak sepi dan tidak terlalu banyak pengunjung. Setelah saya memasuki gedung
ini ternyata didalamnya sudah nampak banyak sekali pengunjung. Persiapan yang
dilakukan oleh pelatih lumna – lumbanya lumayan lama dan saya pun harus
menunggunya. Beberapa kali wajah saya dan abid tersorot oleh kamera yang ditayangkan
di layar besar di depan pementasan tersebbut. Saya pun acuh tak acuh dan
sebenarnya saya juga mengetahuimua. Setelah sekian lama menunggu akhirnya
dimulailah pementasan lumba –lumba ini. Awalnya yaitu di tayangkanlah sebuah
film yang menceritakan anak – anak yang ingin sekali menjadi pelatih para lumba
– lumba. Setelah tayangan itu selesai, dua orang pelatih lumba – lumba keluar
dan para penonton bertepuk tangan dengan meriahnya. Pelatih lumba-lumba
tersebut segera mulai beraksi dengan lumba – lumba tersebut. Para penonton
bersorak gembira. Namun saya melihat satu orang pelatih itu nampak beberapa
kali terpeleset dari panggung dan sontak para pengunjung pun langsung tertawa.
Anehnya tidak hanya sekali saja pelatih itu terpeleset namun sering dan membuat
pembawa acara lumba – lumba ini menjelaskan karena panggung lumba – lumba
tersebut sangat licin. Ya memang begitulah dari dulu sampai sekarang pementasan
lumba – lumba seperti itu –itu saja tidak ada yang baru. Setelah selesai saya
dan Abid segera keluar dari tempat ini dan segera melanjutkan kegiatan
selanjutnya.
BAB
I
PERJALANAN
MENUJU IBU KOTA
A.
Pemberangkatan
Pada hari Rabu siang tepatnya pukul
13.50 WIB kami rombongan dari SMP N 1 Banyumas berangkat ke lokasi tujuan yaitu
kota Jakarta. Kebetulan saya menempati bus yang pertama jadi berangkatnya yang
pertama. Sebelum berangkat tentu saja kita berdoa bersama – sama yang dipimpin
olih Afandi dan Asqilla. Setelah selesai berdoa kita semua melanjutkan
perjalanan yang sangat menyenangkan. Perjalanan kita itu melewati jalur
selatan. Saat di dalam bus kami meminta untuk di putarkan musik dan kernet bus
pun melayani permintaan kami dengan baik. Bella pun memberinya flashdisk dan
langsung saja diputar musiknya. Tapi sangat disayangkan sekali lagu – lagu yang
ada di flashdisk Bella hanya musik musik Korea. Kebanyakan anak – anak yang ada
di bus 1 itu rata rata tidak suka dengan lagu korea. Dan teman teman pun
meminta untuk mengganti flashdisknya.
Akhirnya ada juga flashdisk yang isinya lagu lagu bagus dan disukai
banyak kalangan. Lama kelamaan hanya memutar musik tentu saja membosankan dan
Asqilla pun mengajak untuk mengikuti dan menyanyi bersama sesuai dengan musik
yang kami putar. Sehubungan sekarang
bertepatan dengan musim penghujan, perjalanan kita pun dihiasi dengan indahnya
gemricik air hujan yang cukup deras. Kepala saya pada saat itu sudah terasa
pusing dan perut agak mual, untung saja tidak sampai muntah.
Supir bus berhenti di salah satu
pombensin wilayah Lumbir untuk sekedar istirahat sebentar dan melaksanakan
sholat ashar. Saat itu saya pun langsung turun dari bus dan menuju langsung ke
WC area pombensin. Saya pun langsung saja masuk ke WC, saat saya membuka
pintunya, saya terkejut dan langsung saya tutup pintunya lagi. Ternyata di
kloset wc itu terdapat kotoran manusia, otomatis saya langsung keluar dan
menutup pintunya. Sayapun mencari wc yang bersih dan akhirnya ada juga. Setelah
saya buang air kecil, saya langsung menuju ke mushola di area pombensin
tersebut dan mengambil air wudlu. Tempat wudlu di sini hanya ada 4 kran dan
bagian pinggir atapnya tidak ada jadi mau tidak mau saya wudlu sambil hujan
hujanan, memang pada saat itu hujannya masih turun dengan deras. Saya langsung
melanjutkan untuk melaksanakan sholat asharnya. Setelah semua siswa selesai
melakukan sholat dan sudah merasa cukup untuk istirahat kami semua pun
melanjutkan perjalanan kita. Akibat dari supir bus yang kurang tepat memakirkan
busnya jadi bus 1 sekarang menepati urutan yang terakhir. Jalan didaerah Lumbir
itu sangat rawan kecelakaan, kondisi jalannya berkelok – kelok namun masih agak
bagus jalannya. Pada saat itu perut yang tadinya masih biasa biasa saja,
sekarang tiba tiba langsung mual kembali akibat jalan yang sangat menakjubkan
ini. Untuk mengurangi rasa mual dan pusing, saya berinisiatif untuk tidur
sejenak. Namun apa daya, di dalam bis saya masih tetap saja tidak bisa tidur
akibat tingkah laku Anam. Anam ini anaknya iseng sekali, kalau saya sedang
duduk tiba – tiba Anam menduduki saya, seolah olah saya itu tempat duduk. Tidak
hanya itu saja, yang membuat saya tidak nyaman itu bau badan Anam yang sangat
menyengat. Hal itu membuat saya dan teman – teman merasa sangat tidak nyaman
dengan keberadaan anak ini. Setelah melewati indahnya jalan Lumbir, hujan sudah
agak reda. Namun kondisi jalan semakin berbahaya karena jalan raya terdapat air
yang dapat menyebabkan kecelakaan. Alhamdulillah semua itu tidak terjadi.
Perjalanan kali ini sudah agak membosankan,
anak- anak di dalam bus juga sudah merasa kelelahan. Meskipun rata – rata sudah
merasa kelelahan, namun Anam tetap mondar mandir jalan ke depan dan ke belakang
sembari menyalakan musik dengan volume yang agak keras, mungkin Anam berniat
ingin menghibur teman – teman yang mulai kelelahan. Tapi itu semua menurut saya
sia – sia, karena teman – teman sudah terlihat lelah dan ngantuk. Matahari
mulai tenggelam di ufuk barat menandakan hari pun sudah menjelang malam. Musik
di dalam bus masih terdengar jelas kerasnya, sehubungan sudah masuk jam
maghrib, kernet bus memerintah Anam untuk mematikan terlebih dahulu pemutar
musiknya. Alangkah indahnya suara adzan yang dikumandangkan oleh salah satu
masjid yang berada di salah satu pinggir jalan, namun kami tidak segera sholat
maghrib karena perjalanan kita masih jauh dan para panitia berniat untuk makan
malam di Pananjung dan sekaligus melaksanakan sholat maghrib dn sholat isya
secara berjamaah. Tapi sayangnya lokasi makan malamnya masih jauh dan kami pun
harus menunggu menunggu dan menunggu lagi. Disepanjang perjalanan saya merasa
bosan sekali, namun rasa bosan itu sedikit demi sedikit hilang karena tingkah
Anam. Anam kembali menghibur kita semua dengan gaya khasnya. Saya juga seringkali
meledek anak perempuan yang berada disebelah kiri saya. Meledek teman – teman
itu sudah sering saya lakukan, namun saya meledeknya juga tidak terlalu over
karena dapat mengganggu teman – teman yang lainnya.
B. Makan
Malam Di Rumah Makan Pananjung, Jawa Barat
Setelah sekian lama menunggu akhirnya kita
sampai juga di sebuah rumah makan Pananjung yang terletak di Kota Tasikmalaya,
Jawa Barat. Di rumah makan ini kami dituntun masuk dan beranjak naik ke lantai
dua untuk menikmati hidangan makan malam kami. Tidak disangka dan tidak diduga
ternyata kami harus mengantri terlebih dahulu, dan saya pun mengantri dengan
tertib. Menurut saya rumah makan ini tidak terlalu bagus dan tidak terlalu
mewah, rumah makan ini kondisinya masih bagus namun ruangannya agak gelap
karena lampunya tidak dinayalakan semua. Saya pun kebagiaan jatah mengambil
makan malamnya. Menu makan malam yang diseddiakan di sini tidak terlalu nikmat,
mau tidak mau saya harus memakannya karena perut saya sudah mulai keroncongan
dari tadi. Kesialan pun menghampiri diriku, saya lupa mengambil air putih untuk
minum. Ya akhirnya saya menikmati makan malamnya terlebih dahulu walau terpaksa
tanpa air minum. Setelah saya selesai menikmati hidangan makan malam, saya
berusaha untuk mendapatkan air minum dan alhamdulillah saya mendapatkannya
juga. Walaupun air minumnya berupa sebuah air teh panas dan pahit yang sama
sekali tidak nikmat untuk diminum. Untung saja saya mendapat antrian awal dan
tentu saja saya cepat selesainya. Setelah selesai menikmati hidangan makan
malam, saya langsung turun ke lantai dasar untuk buang air kecil dan melakukan
sholat maghrib sekaligus sholat ashar. Namun tidak disangka sangka di dalam
kamar mandi rumah makan ini itu antrinya panjang sekali, dan saya berusaha
untuk menunggunya. Setelah sekian lama menunggu, saya langsung segera memasuki
salah satu bilik kkamar mandi untuk buang air kecil yang sudah tak tertahankan
dari tadi.
Akhirnya saya berhasil untuk buang
air kecil dan perasaan saya sekarang sangat lega. Mushola yang terdapat dirumah
makan ini ukurannya sangat sempit sekali dan antrinya juga banyak sehingga saya
memutuskan untuk keluar dan menunggunya diluar. Suasana di liar rumah makan
Pananjung ini sebenarnya sangat indah, namun entah kenapa tempat untuk para
siswa makan malam seperti di tempat – tempat biasa, sdangkat tempat makan untuk
para guru – guru jauh lebih bagus dan terihat elit daripada tempat makan untuk siswa – siswa. Di rumah makan Pananjung
ini kita agak lama karena kita harus menjadwal terlebih dahulu supaya rombongan
tepat waktu untuk datang di penginapan Wiladatika. Saat di rumah makan
Pananjung, saya berkeliling – keliling untuk menikmati udara luar dan menikmati
indahnya jalan Tasikmalaya. Seringkali saya memasuki bus lainnya untuk meminta
makanan dan sekedar untuk menghilangkan rasa yang membosankan. Suhu di dalam
bus maupun di luar bus mulai naik. Saya pun harus memakai jaket tebal untuk
menghangatkan tubuh saya. Jaket hanya menghangatkan bagian tubuh atas saya
saja, jadi saya memanggil kernet bus untuk untuk membukakan bagasi bus. Setelah bagasi bus dibuka oleh kernet bus,
saya langsung mengabil sarung yang saya letakan di tas berisi dengan baju –
baju ganti saya. Menggunakan jaket tebal dan sebuah sarung sudah cukup untuk
menghangatkan tubuh saya.
C. Perjalanan
Menuju Penginapan Wiladatika, Cibubur
Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya para
panitia menghimbau untuk segera naik ke dalam bis karena kita semua akan
melanjutkan perjalanan menuju penginapan. Lagi – lagi saya harus mengalami
sebuh perasaan yang sangat menyebalkan sekali yaitu rasa bosan. Jalan yang
dilalui menuju penginapan lumayan terjal dan curam. Jaraknya juga lumayan jauh
dari rumah makan Pananjung membutuhkan waktu sekitar 4 jam lebih. Sekarang yang
saya takutkan adalah mabuk dan muntah. Setelah perut terisi makan malam tadi,
saya lumayan takut dan khawatir karena saya ini tipe anak yang mudah mabuk dan
muntah. Dari sebelum berangkat, saya juga tidak menyempatkan diri untuk meminum
obat anti mabuk. Mau bagaimana lagi, saya harus kuat dan tetap semangat supaya saya tidak mual. Saya sangat
bersyukur sekali, karena sepanjang jalan saya agak tertidur sebentar. Walaupun
saya tertidur sebentar, rasa pusing, mual, mabuk langsung hilang seketika.
Kalau tidak salah, saat itu waktu
menunjukan pukul 22.00 WIB. Saat pukul sepuluh malam saya menikmati jalan yang
indah. Jalan di daerah Jawa Barat cukup lumayan bagus dengan hiasan pondasi
yang menarik di setiap pinggir jalan. Pondasi yan berada dipinggir jalan ini
berfungsi untuk menghindari bencana longsor. Jalanan di sini memang dihiasi
oleh pohon yang menjulang tinggi serta perbukitan yang sangat rawan sekali
teerjadi longsor apabila diterjang hujan yang deras sekali. Maka dari itu
pembangunan pondasi disepanjaang jalan ini sangat bermanfaat. Selain untuk
menghindari terjadinya tanah longsor, manfaat lain juga dapat digunakan untuk
memperindah jalan – jalan kota Tasikmalaya.
Tidak lama kemudian setelah saya bangun dari
tidur nyenyak, daerah disini kembali diguyur oleh derasnya hujan. Saya tidak
tahu pasti dimana sekarang saya berada karena pingguran jalan tertutup oleh
kabut yang lumayan tebal dan agak sedikit menghalangi penglihatan saya. Saat
ini musik kembali di putar oleh kernet bus, namun semua siwa sudah tertidur lelap
dan hanya beberapa saja yang masih terbangun. Ketika saya sedang duduk santai
menikmati indahnya jalan dan indahnya alunan musik, tiba- tiba saya
mendengarkan sebuah dengkuran yang lumayan keras. Kemudian saya selidiki dan
mencari tahu dimana sumber dengkuran itu berasal. Tidak lama kemudian saya
menemukan sumber dimana dengkuran itu berasal. Ternyata siswa kelas IX A sebut,
saja namanya Aldo seorang anak keturunan Cina. Aldo ini saya perhatikan dari
awal keberangkatan menuju Jakarta sampai sekarang itu kebanyakan makan – makan
terus. Dan sekarang saya lihat dengan agak kagum, anak ini tidurnya sangat
lelap diiringi dengan dengkuran yang maha dahsyat. Setiaap sekali dengkuran
Aldo, semua anak serentak tertawa krena dengkurannya. Sontak semua teman – teman
tidak bia tidur, salah satu akibatnya ya itu dengkurannya Aldo. Waktu sudah
semakin malam, mata saya sudah mulai lelah dan ingin tertidur kembali. Namun
ini semua sia – sia. Saya berusaha sekuat mungkin untuk tidur tetapi tidak bisa
juga. Entah kenapa dan entah mengapa, entah posisi yang kurang enak atau sebab
– sebab yang lainnya. Saya terpaksa untuk tidak tidur dan memilih untuk
menikmati perjalanan yang sangat – sangat membosankan. Setelah saya menengok ke
arah jendela bus, ternyata sudah sampai di salah satu kota di Jawa Barat,
tetapi saya di tidak tahu dimana sekarang saya berada. Itu semua tidak penting
lah, yang penting kita itu harus senantiasa berdoa dimanapun dan kapanpun kita
berada. Jalanan di kota ini cukup ramai walaupun pada malam hari. Sebelum
beberapa lama saya menikmati jalan malam di salah satu kota ini, bus mengarah
ke salah satu tol yang bernama Tol Cileunyi. Tol Cileunyi ini menghubungkan
antara provinsi Jawa Barat dengan provinsi DKI Jakarta. Baru pertama kali saya
memasuki jalan tol ini, pemandangan jalan tol pada malam hari sangat indah dan
menakjubkan, apalagi jika diihat pada siang hari jauh lebih jelas dan tentu
saja indah. Sebelum beberapa lama dari gerbang tol, saya disambut dengan jalan
yang super bagus dan jelas. Disepanjang jalan tol ini terdapat plang – plang
peringatan yang bertujuan untuk menghindari kecelakaan yang terjadi. Kebanyakan
kecelakaan yang terjadi di jalan tol itu sangat fatal, sehingga supir bus harus
ekstra hati hati supaya tidak ada hal – hal yang tidak diinginkan. Kata orang –
orang kecelakaan yang terjadi di jalan tol itu rata – rata memakan korban jiwaa
banyak, hanya sedikit kecelakaan saja yang memakan korban sedikit. Setelah saya
perhatikan, banyak sekali pengguna mobil sedan yang seenaknya menggunakan bahu
jalan, padahal di sepanjang jalan sudah terpampang jelas supaya tidak
menggunakan bahu jalan keculi dalam keadaan darurat seperti mengganti ban yang
bocor atau pecah dan yang lainnya. Seakan – akan peraturan yang dibuat oleh
pemerintah itu hanya untuk hiasan saja, tidak dilaksanakan oleh para pengguna
jalan tol. Kendaraan yang melewati jalan tol ini kecepatannya luar biasa
cepatnya. Bus yang saya tumpangi ini juga tidak kalah cepatnya dengan kendaraan
yang lainnya. Hari pun sudah semakin malam saja, namun saya juga tidak bisa
tertidur. Sekarang saya dengan tiga teman saya yang tidak bisa tidur
berinisiatif untuk menjadi seperti pembawa acara yang ada di pertandingan sepak
bola. Namun kita tidak berada didalam pertandingan sepak bola melainkan menjadi
pembawa acara pertandingan balapan yang ada di tol ini. Meskipun bus 1 mendapat
urutan yang paling terakhir, namun daya salip menyalipnya sangat kuat, sehingga
di sepanjang jalan tol bus satu dengan bus lainnya saling salip menyalip.
Meskipun su[ir bus juga seringkali melanggar peraturan yang ada dijalan tol
seperti menyalip kendaraan dari lajur sebelah kiri. Padahal tentu saja para
kendaraan tidak boleh menyalip lewat jalur kiri karena sangatlah membahayakan.
Tetapi malam itu kondisi jalan tol masih tergolong sepi jadi tidak ada salahnya
untuk menyalip lewat jalur kiri. Setelah lumayan lama berbicara tak jelas, saya
melihat di depaan jalan terdapat tulisan Jakarta. Berarti sekarang kita sudah
sampai di Jakarta, walaupun masih agak jauh dari penginapan wiladatikanya.
Lampu berkelap kelip sepanjang jalan diikuti dengan banyaknya plang yang berisi
peraturan berkendara di jalan tol. Saat saya melihat banyaknya plang – plang
peraturan itu saya aagak kagum. Begitu banyaknya di pasang disepanjang jalan
tol, namun para pengguna jalan tol tidaak memanfaatkan dan malah cuek dengan
semua peraturan yang ada. Bus kami sudah beberapa kali melewati gerbang –
gerbang tol lainnya, dan sekarang saya tidak tahu pasti jalan tol apa yang
sedang saya lewati.
Alhamdulillah
saat ini saya sudah agak mulai ngantuk dan akhirnya saya tertidur meskipun
tidurnya tidak terlalu lelap. Dalam tidur, saya membayangkan betapa indahnya
kota Jakarta serta asiknya berlibur di ibu kota ini. Tiba – tiba saya terbangun
dengan sendirinya, ternyata yang membuat saya bangun itu hanyalah guncangan
kecil jalan tol yang agak rusak sehingga saya terbangun olehnya. Saya berfikir
perjalanan ini terlihat sangat lama dan tidak juga sampai – sampai di
penginapan wiladatika. Saya pun melihat ke arah luar lewat jendela bus dan
melihat banyaknya gedung – gedung yang berdiri. Di Jakarta ini memang sangat
banyak gedung yang berdiri baik itu sebuah perusahaan, hotel, apartemen, dan
lain sebagainya. Kota Jakarta ini memang sangat indah jika dilihat dari malam
hari. Setelah saya perhatikan kembali jalan tol ini menuju ke gerbang tol
berikutnya. Perasaan saya sudah mulai kurang enak soalnya saya sudah sangaat
ingin buang air kecil. Mau bagaimana lagi saya harus menahannya karena kata
panitia study tour, penginapan wiladatika sudah hampir dekat. Saya agak sedikit
senang sekali setelah mendengar kabar itu. Saya berfikiran setelah saya smpai
di penginapan wiladatika saya akan tidur sepuasnya dan buang air kecil tanpa
ada gangguan sedikitpun. Kata panitia memang benar, tidak lama setelah panitia
memberi kabar sudah dekat dengan penginapan wiladatika, akhirnya kita sampai
juga di penginapan wiladatika ini. Namn supir bus ini harus memarkir busnya
terlebih dahulu supaya terlihat rapi dan tidak berantakan. Setelah bus
diparkir, sayapun langsung turun dari bis dan menuju kamar yang sudah
ditentukan.
BAB
II
TRANSIT DI ASRAMA WILADATIKA
A. Sampai
di Penginapan Wiladatika Cibubur
Setelah menikmati perjalanan yang
menurut saya sangat jauh, akhirnya kami rombongan dari SMP N 1 Banyumas sampai
di tempat penginapan Wiladatika yang terdapat di daerah Cibubur. Perasaan yng
saya rasakan sekarang adalah senang dan ingin segera istirahat karena saya
sudah merasa lelah dengan perjalanan yang jauh. Saya memasuki kamar dan
meletakan barang – barang bawaan dan pergi ke kamar mandi untuk buang air
kecil. Setelah buang air kecil, perut saya merasa lapar dan saya pun mengambil
makanan yang saya bawa. Namun makanan saya tidak terlalu mengenyangkan shingga
saya meminta makanannya Aji. Beberapa roti pun saya telan dengan lahapnya. Saya
pun merasa haus dan segera mengambil air minum yang saya bawa. Memakan makanan
kecil dan roti sudah membuat saya sedikit kenyang dan saya pun lansung segera
beranjak ke tempat tidur untuk tidur. Dari awal saya masuk ke penginapan ini
saya berfikir penginapan ini sudah berumur tua dan bangunannya pun tidak
terlalu mewah namun bersih. Yang saya takutkan, kondisi kamar dan ruangan yang
ada di tempat ini bernuansa horor sekali. Saya pun seringkali berfikiran yang
tidak – tidak. Saya hanya berdoa supaya Allah tetap melindungi di setiap
langkah saya. Anak remaja memang tidak luput dengan melihat acara yang menarik
televisi. Saah satu anak di disini ada yang menyalakan televisi sehingga
menambah suasana yang tadinya sepi sekkarang sudah agak ramai.ada yang bermain
gitar di luar penginapan dan ada juga yang jalan – jalan di sekitar penginapan
hanya untuk melihat lihat suasana pemadangan yang ada disini. Waktu pun sudah
semakin larut malam dan mata saya sudah sangat ngantuk sekali. Saya beruntung
sekali karena anak – anak ang sekamar dengan saya itu rata – rata anak yang
baik dan tidak suka membuat onar. Kami menempati ruang 1 di penginapan wisma
melati. Saya membayangkan sejenak ruangan ini, entah mengapa saya selalu
menatap atap kamar ini. Dan saya pun tidak memikirkannya dan langsung saja
menarik selimut untuk segera tidur. Setelah semua sudah menempati tempat tidur
masing – masing, kami pun semua berdoa menurut agama dan kepercayaan masing –
masing dan akhirnya kami tertidur dengan sendirinya. Tiba – tiba saya terkaget
dengan adanya suara di balik jendela kamar ini. Setelah saya perhatikan dengan
baik – baik ternyata itu hanyalah suara icak yang jatuh dari atap dan ssaya pun
segera melanjutkan tidur saya. Di luar penginapan ini banyak anak – anak yang
tidak tidur, mereka malah jalan – jalan dan memainkan tidur. Menurut saya, saya
lebih baik tidur karena besok saya akan membutuhkan tenaga yang lumayan banyak.
Saya mendengarkan penjelasan dari Pak Hari guru IPS saya. Apabila sudah sampai
di penginapan kita harus langsung tidur supaya esok harinya kita tidak
menyesal. Dalam tidur, saya tidak memimpikan apa – apa dan saya hanya tidur
satu jam. Saya lebih beruntung karena dapat tidur daripada anak – anak yang
lainnya.
B. Bangun
Tidur dan Persiapan Mandi
Saya terbangun dari tidur saya karena
mendengar suara alarm yang sangat keras dan banyak, otomatis saya langsung
segera membuka mata saya. Setelah saya bangun dari tidur yang indah, saya pun
segera keluar dari kamar dan pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka dan buang
air kecil. Kami semua segera mengambil air wudlu untuk melaksanakan sholat
subuh berjamaah di dalam penginapan, ruang tamu menjadi pilihan yang tepat
untuk dijadikan tempat untuk sholat karena ruangannya luas dan bersih. Setelah
kami semua melaksanakan sholat subuh, teman – teman segera berebutan untuk
mandi, saya harus mengantri terlebih dahulu karena banyak sekali anak – anak
yang mau mandi. Akhirnya saya mendapat giliran untuk mandi dan sayapun harus
bergerak cepat karena diluar masih banyak sekali teman – teman yang mengantri.
Suasana mandi di penginapan sini sangat berbeda jauh dengan saat saya mandi di
rumah. Jika mandi dirumah saya dapat menghabiskan waktu seberapa lama pun
dikamar mandi, sedangkan juka mandi di penginapan seperti yang sekarang ini
saya merasa seperti di kejar – kejar anjing yang buas. Saya merasa mandinya itu
ridak nikmat dan tidak bersih karena saya harus segera cepat – cepat. Padahal,
air yang disediakan untuk mandi itu berupa air hangat yang sangat enak jika
mandinya itu lama.. Setelah membasuh badan dengan sabun dan air saya segera
langsung mengambil handuk dan segera mengelap seluruh badan saya dan segera
keluar dari kamar mandi. Memang dari tadi kamar mandinya terus menerus digedor
gedor dan saya pun otomatis tidak sama sekali merasa nyaman. Setelah saya
keluar dari kamar mandi, saya langsung segera masuk ke dalam kamar untuk
memakai baju dan bersiap siap untuk kegiatan berikutnya. Memang saya akui, jika
di dalam kamar itu saya sangat lama untuk menyiapkan semuanya. Setelah agak
lama didalam kamar, saya segera keluar dan mengajak teman – teman untuk keluar
dan jalan – jalan sejenak untuk menghirup segarnya udara pagi di penginapan
wiladatika ini. Suasana langit pun mulai terang. Saya dan anak – anak pramuka
kumpul bersama untuk sekedar foto – foto di depan tugu patung wiladatika ini.
Sehubungan kami semua anak pramuka, kami ingin sekali mengabadikan momen yang
sangat jarang sekali terjadi yaitu foto di sini. Kami pun harus memanggil teman
– teman yang lainnya terlebih dahulu supaya saat berfoto nanti suasananya agak
ramai dan tidak terlalu sepi. Yang paling saya tidak sukai adalah saya harus
menggendong dua tas sekaligus dan tasnya juga lumayan berat. Setelah kami
berputar – putar untuk mencari Dian karena Dian yang mempunyai kamera. Setelah
Dian di temukan, kami semua langsung segera jalan ke arah tugu wiladatika dan
menuju kolam yang terdapat di gedung utama tempat ini.
Setelah semua anak – anak berkumpul, tidak
lama kemudian kami langsung mengambil foto sebanyak mungkin. Salah satu dari
kami ada yang membawa spanduk sekolah kami dan juga ada yang membawa bendera
pandu dunia dan bendera pramuka. Saat kami mengambil foto kami tidak sadar
ternyata hari pun sudah semakin pagi ddan kami masih asik untuk berfoto
bersama. Beberapa kali kami berganti gaya foto dan juga beberapa kali kami
pindah dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya. Kami sangat senang karena
dapat mengambil foto yang sangat banyak di penginapan wiladatika ini. Setelah
kami sudah merasa bosan, kami segera menaruh tas di dalam bagasi masing –
masing. Setelah beberapa menit kemudian, anak – anak dipanggil oleh panitia
untuk menikmati makan pagi yang dilaksanakan sekitar jam setengah tujuh. Kami
semua pun harus antri dan memasuki ruangan yang sudah di tentukan oleh panitia.
Menu sarapannya pun lumayan enak yaitu sebuaah nasi goreng dengan tempe kering
daan sedikit telur. Memang saat itu saya sudah merasa lapar sekali dan saya
agak cepat menghabiskan makanannya. Setelah saya selesai makan saya langsung
segera keluar dari tempat ini dan ingin jalan – jalan sebentar. Di luar masih
banyak anak – anak yang mengantri untuk mendapatkan makan pagi. Untungnya saya
sudah mendapatkan makan paginya. Saya berkeliling keliling disekitr penginapan
ini. Ternyata pemandangaan yang ada disini itu sungguh indah dan menyegarkan.
Tentu saja sangat lekat dengan nuansa kepramukaannya. Waktu pun sudah semakin
berjalan dan semua teman – teman sudah selesai makan paginya, tinggal menunggu
para guru dan supir bus untuk makan siang. Kami pun harus sabar menungu mereka
makan pagi. Saya pun merasa bosan dari tadi hanya menunggu saja. Saya pun
berinisiatif untuk keluar dari bus dan melihat para bapak – bapak yang sedang
lari pagi di sekitar lapangan penginapan ini. Dan saya pun seringkali menyanyi
untuk menghilangkan rasa bosan. Tak lama kemudian akhirnya para panitia dan
para supir pun sudah selesai untuk makan paginya. Kami semua semua juga disuruh
untuk segera memassuki bus karena sebentar lagi bus akan berangkat ke tempat
tujuan berikutnya. Saya merasa bangga karena saya bisa mengunjungu tempat
dimana Pramuka itu di lahirkan saya juga sangat senang sekaali dapat mengaambil
foto – foto disini. Akhirnya rombongan kami pun meninggalkan dan segera keluar
dari lokasi penginapan wiladatika tercinta ini. Rombongan kami pun segera
melanjutkan ke tempat berikutnya yaitu ke TMII atau Taman Mini Indonesia Indah
lebih tepatnya kami mengunjungi ke tempat PP IPTEK nya saja.
PP IPTEK TAMAN MINI INDONESIA INDAH
A. Perjalanan
Menuju PP IPTEK TMII
Perjalanan menuju PP IPTEK TMII kira – kira
membutuhkan waktu sekitar dua jam lebih. PP IPTEK adalah singakatan dari Pusat Peragaan
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang letaknya berada di Taman Mini Indonesia
Indah ( TMII ). Waktu dua jam itu saya gunakan untuk tidur di dalam bus. Tadi
malam, saya hanya tidur sebentar jadi esoknya saya merasa ngantuk dan akhirnya
tertidur di bus walau tidurnya hanya sebentar saja. Kota Jakarta adalah salah
satu kota yang terkenal dengan kemacetannya. Saat itu juga bus kami juga
terjebak dalam kemacetan yang lumayan panjang, untung saja pada saat itu saya masih
tertidur pulas. Tidak lama kemudian saya terbangun karena bus tiba – tiba rem
mendadak yang membuat saya jatuh kedepan dan otomatis saya langsung terbangun.
Padahal tidur saya ini sangat lelap dan saya pun harus bangun karena perjalanan
ke taman mini indonesia indah sudah mau sampai. Meskipun saya sudah bangun dari
tidur indah, pemandaangan yang ada didepan saya itu tetaplah kemacetan dan
kemacetan. Saya berfikir apakah orang – orang di Jakarta ini tidak bosan setiap
hari dan setiap saat jalanannya mengalami kemacetan. Tak lama kemudian bus kami
pun berbelok arah ke kiri yang menuju ke Taman Mini Indonesia Indah. Untung
saja jalan yang menuju ke Taman Mini Indonesia Indah tidak ada kemacetan sama
sekali hanya sedikit berhenti karena ada lampu lalu intas yang menghadang.
Meskipun perjalanan hanya memakan waktu sebentar saja, sya sudah merasa bosan
di dalam bus, saya juga merasa lelah dan ingin segera turun dari bus ini. Saya
ini memang tipe anak yang tidak suka mengendarai kendaraan bus. Entah mengapa
dan kenapa setiap kali saya menaiki bus saya langsung pusing dan seringkali
mabuk serta muntah. Untung saja sampai sekarang ini saya tidak mengalami mabuk
ataupun muntah. Alhamdulillah kita segera sampai di Taman Mini Indonesia Indah.
Rombongan dari bus kami pun beranjak ke pintu masuk. Bus saya di datangi oleh
seorang petugas Taman Mini Indonesia
Indah dan menanyakan berapa jumlah penumpang dan pendamping yang ada didalam
bus, kami pun serentak menjawabnya dan akhirnya petugas itupun turun dengan
sendirinya. Tak beberapa lama kemudian bus kami segera masuk untuk memasuki area Taman Mini Indonesia Indah dan
mencari lahan parkir untuk memarkir bus. Saya heran kenapa setiap kali memasuki
area disini, jalan yang menuju ke tempat parkir itu lumayan jauh. Ha; itu pun
juga terjadi di Taman Mini Indonesia Indah ini. Bus kami berputar – putar untuk
mencari tempat parkir. Ketika bus ini sedang berjalan untuk mencari lahan
parkir, saya pun melihat pemandangan yang indh dari samping kanan saya. Disini
tersedia banyak sekaali keindahan alam Indonesia. Saya juga melihat beberapa
barisan rumah – rumah adat Indonesia yang terpampang jelas di hadapan saya.
Setelah beberapa lama kemudian akhirnya bus kami pun sampai di area parkir
khusus bus. Saya pun segera turun karena sudah sangat bosan didalam bus. Para
siswa tidak diperbolehkan membawa tas dan saya pun tidak jadi membawa tas dan
segera mengembalikannya ke dalam bus. Semua siswa berbaris menuruti apa yang
dikatakan oleh panitia supaya tidak ada hal – hal yang tidak diinginkan. Kami
semua masuk ke dalam pintu masuk. Sebelum saya masuk, terlebih dahulu saya
melihat berbagai benda – benda yang sangat unik.
Di depan pintu masuk saya melihat sebuah roda
pesawat terbang yang sangat besar. Setelah saya membaca penjelasan yang tertera
di roda ini ternyata roda pesawat ini merupakan salah satu roda pesawat dari
maskapai penerbangan Indonesia yaitu Garuda Indonesia. Roda ini sangat tebal,
keras dan tentu saja sangatlah berat. Dalam penjelasan saya juga membaca berat
dari roda pesawat terbang ini tapi sayang saya lupa. Selain roda pesawat
terbang saya juga melihat robot transformer yang namanya kalau tidak salah
adalah Bumble Bee. Robot ini menurut saya tidak terlalu menarik dan warna robot
ini adalah kuning. Setelah rombongan kami sudah terkumpul semua kami sudah
dipandu oleh seorang sosok wanita yang cantik dan berjlibab. Kami semua di
suruh untuk duduk dan dijelaskan semua peraturan – peraturan yang harus diperhatikan. Pemandu wanita
menjelaskan peraturan dengan lembut, santai, dan detail. Tak lama kemudian kami
disuruh untuk berdiri dan di atur satu persatu untuk memasuki PP IPTEK dengan
tertib. Setelah saya masuk ke dalam saya agak sedikit kagum dan sedikit merasa
bosan. Saya mengikuti teman – teman untuk mencoba semua teknologi – teknologi
yang disuguhkan di tempat ini.
B. Mencoba
dan Mengamati Alat – Alat di PP IPTEK TMII
Di sini sangat banyak peralatan – peralatan
yang mengandung unsur teknologi yang canggih. Sayapun mendekaaat ke salah satu
peralatan disini dan mencobanya. Yang pertama kali saya coba adalah sebuah alat
yng dapat merekam suara manusia. Dan saya pun segera beralih ke alat yang lain.
Entah mengapa saya sangat merasa bosan karena alat – alat disini sudah sangat
seperti biasa sekali tidak ada hal – hal yang baru atau bernuansa lain. Saya
akui bangunan ini sangat unik sekali, dari luar terlihat seperti sebuah
piramida yang sangat besar. Namun setelah saya memasukinya ternyata bagian
dalam tempat ini terdiri dari tiga lantai yang masing - ,masing laintainya
berisi berbagai macam alat – alat yang berkaitan dengan teknologi. Saat ini
saya berjalan sendirian karena sya ditinggal oleh teman – teman. Saya melihat
sebuah alat musik yang nampak seperti alat petik. Petikanlah yang menghasilkan
bunyi dari alat musik itu, namun yang anehnya di alat musik ini tidak ada
satupun senar yang terpasang. Dan saya hanya mengarahkan tangan saya ke alat
musik ini dan tiba – tiba menghasilkan bunyi. Saya pun terkaget karenanya.
Setelah saya mencoba alat musik ini saya pun menemui Abid untuk menemani saya
supaya saya tidak berjalan sendirian.Setelah itu, saya beranjak ke lantai
berikutnya dan saya melihat sebuah tiruan dinasaurus yang sangat mirip wujudnya.
Mulai dari kulit, gerak tubuhnya, serta bentuknya saangat – sangatlah mirip
dengan aslinya. Kalau tidak salah jumlah dinasaurus disini berjumlah tiga buah.
Kemudian saya berjalan ke tangga yang terletak disampimg tiruan dinasurus dan
saya segera menaikinya untuk melihat alat – alat yang berikutnya.
Setelah saya sampai diatas, saya
disamabut dengan alat alat yang sudah rusak dan otomatis tidak bisa saya coba.
Di lantai ini kebanyakan peralatannya sudah rusak dan sudah harus diganti
dengan yang lainnya. Saya dan Abid hanya berjalan melihat – lihat suasana
sekitar. Tiba – tiba saya ingin buang air kecil dan segera mencari toilet di
area sini. Setelah berputar putar saya pun menemukan toiletnya. Akhirnya saya
pun lega karena sudah menuruti panggilan alam. Saya melihat – lihat toilet
disini dan saya tidak sengaja membuka pintu kecil yang jika dilihat dari jauh
seperti jendela. Jendela kecil ini terletak di salah satu bilik toilet. Saya
penasaran dan segera membukanya, saya langsung terkaget. Ternyata isi dari
jendela kecil ini adalah sebuah kontruksi bangunan yang tidak kita sadari
dibalik bentuk bangunan yang inah ini, ternyata ada sebuah keburukannya juga,
isinya yaitu dinding – dinding yang curam dan tidak berbentuk. Suasana di balik
sini juga gelap dan dalam. Saya langsung segera menutupnya karena saya agak
takut. Saat di toilet saya menunggu Abid yang sedang buang air besar, saya
harus menunggu lama. Dia berteriak kecil karena celananya jatuh ke dalam kloset
toilet dan akhirnya tidak jadi buang air besar dan segera keluar untuk membilas sedikit bagian
yang jatuh ke dalam kloset. Setelah saya
keluar dari toilet saya dan Abid kembali melanjutkan untuk mencoba alat – alat
yang ada di sini. Saya menyesal karena di sini saya tidak bersama gerombolan
Dian, dan saya pun harus rela untuk tidak mengambil foto – foto disini. Menurut
saya itu tidak terlalu penting. Saya pun terus berjalan untuk mencari alat –
alat yang sedang tidak dipakai oleh pengunjung lain. Semakin siang memang
pengunjung disini semakin banyak dan saya pun harus bersabar untuk mengantri
demi mencoba alat-alat disini. Setelah saya lelah berjalan – jalan, saya
melihat tempat duduk dan saya pun duduk sejenak untuk menghilangkan rasa lelah.
Saya melihat ke arah samping ada sebuah ilustrasi tentang pantulan suara yang
disalurkan oleh pipa – pipa besar. Saya hendak mencobanya namun sudah didahului
oleh pengunjung lain. Jadi saya terpaksa harus mencoba yang lainnya. Setelah
itu, saya memasuki ruangan yang didalamnya gelap dan berisi bermacam – macam
alat eksperimen yang berhubungan dengan cahaya. Saya pun segera mencobanya satu
persatu.Untung saja disini tidak terlalu ramai pengunjung, jadi saya lebih
berleluasa untuk mencobanya. Saya merasa bosan sehingga saya memutuskan untuk
keluar dari ruangan ini dan berjalan – jalan lagi untuk melihat hal – hal yang
unik lainnya. Saya melihat alat berupa mobil mainan yang berukuran kecil dan
saya pun menarik mobil itu, yang terjadi adalah ketika saya menarik mobil itu,
muncul suara yang nyaring yang membuat saya kaget. Ternyata di bawah mobil itu
ada sebuah alat pemukul alat musik yang berupa kulintang. Saya pun bergegas
untuk melihat yang lainnya. Saya memasuki arena anak kecil yang sebenarnya
tidak boleh di masuki oleh saya. Ruangan ini hanya bileh dimasuki oleh anak
yang usianya 8 – 12 tahun saja. Kebetulan disini kondisinya sedang sepi, saya
langsung masuk saja. Saya mencoba memasuki sebuah labirin yang berukuran kecil
yang didalamnya terdapat cermin – cermin yang dapat membuat kita merasa pusing.
Labirin itu memang diperuntukan untuk anak kecil jadi saya dengan mudah
menyelesaikan labirin itu dengan mudah dan tidak harus memikir. Di dalam
ruangan ini, selain labirin itu ada juga alat musik yang dihasulkan dari
pukulan dan saya pun langsung mencobanya. Di ruangan ini memang tidak sama
sekali mengasyikan dan saya pun segera keluar dari sini. Saya berjalan – jalan
lagi dan melihat alat – alat yang berhubungan listrik. Saya pun penasaran dan
bergegas untuk mendekatinya sekaligus mencobanya. Alat yang pertama saya dekati
itu sebuah bola berukuran sedang yang jika saya sentuh akan menghasilkan sebuah
garis – garis yang seperti dimiliki oleh para paranormal yaitu bola pusaka.
Setelah itu saya ingin mencoba alat yang dapat menimbulkan rambut kepala berdiri,
tapi sayang sekali rambut saya tidak panjang. Yang boleh mencobanya hanya anak
perempuan yang tidak berjilbab dan memiliki rambut panjang.
Akhirnya
ada seorang anak SMA yang ingin mencobanya. Di area ini memang ada petugasnya
jadi kita harus benar-benar mematuhi aturan yang ada. Petugas pun menyuruh anak
perempuan ini memegang bola yang berukuran lumayan besar. Awalnya anak ini
memang takut namun teman – teman yang lain memaksanya jadi akhirnya mau untuk
memegangnya. Setelah beberapa memegang bola itu, sedikit demi sedikit rambut
anak perempuan itu berdiri. Memang tidak berdiri semuanya, setidaknya rasa
penasaranku dengan alat ini sudah terhilangkan. Saya pun segera melanjutkan
untuk melihat alat yang lain. Nampak dari kejauhan saya meliha sebuah rumah
buatan yang dikhususkan untuk simulasi gempa. Setelah saya perhatikan dengan
baik – baik, tiba – tiba rumah itu bergoyang – goyang sendiri dengn dahsyatnya
dan otomatis orang yang ada didalam rumah itu berteriak – teriak histeris
ketakutan. Sebenarnya saya ingin mencobanya, tapi setelah saya melihat antrian
yang lumayan panjang saya pun mengurungkan niat untuk mencobanya. Setelah itu
saya beranjak ke dunia cermin. Memang di dalam sini sangat banyak cermin. Ada
sebuah kotak segitiga kecil namun bisa dimasuki orang, sayapun mencobanya.
Ternyata di dalam segitiga ini terdapat cermin yang sangat banyak, sebenarnya
hanya ada tiga cermin saja. Akibat dari pantulan cermin yang lain, bayangan
yang banyak lah yang tercipta dari pantulan cermin ini. Saya segera keluar
karena jika terlalu lama di dalam sini akan menimbulkan rasa pusing. Ada sebuah
cermin cekung, cembung, datar. Yang anehnya adalah ketika saya mendekati cermin
ini, nampak terlihat jelas namun bayangannya berupa orang cebol yang sangat
pendek dan sontak kami semua tertawa karena lucu melihatnya. Setelah sudah
lumayan banyak alat – alat yang saya coba di lantai ini, saya beranjak ke
lantai bawahnya untuk menemukan teman – teman yang lainnya. Setelah sampai
dibawah saya melihat teman – teman seding bergerombol sedang menganttri untuk
melihat film yang diputar di bioskop yang ukurannya tidak terlalu kecil dan
tidak terlalu besar. Saya penasaran untuk memasukinya namun didalam sana sudah
penuh dan saya pun harus menunggu. Di depan ruang bioskop ini saya melihat
sebuah sepeda yang sedang melaju di seutas kabel yang lumayan panjang. Saya pun
mendekatinya untuk melihat dengan jelas. Setelah saya perhatikan baik – baik,
sepeda ini sudah diamankan dengan peralatan keamanan yang terjamin
keselamatannya. Sebenarnya saya ingin mencobanya, namun untuk mencobanya saya
harus merogoh kocek sebesar lima ribu rupiyah. Setelah saya pikir – pikir, saya
akhirnya memutuskan untuk membatatalkan niat saya. Tidak lama kemudian panitia
memberitahukan kegiatan di PP IPTEK ini sudah selesai dan memerintahkan kami
untuk segera menuju ke dalam bus dan melanjutkan perjalanan selanjutnya yaitu
ke Gelanggang Samudra Ancol.
BAB
IV
A. Perjalanan
Menuju Gelanggang Samudra Ancol
Setelah selesai mengunjungi PP
IPTEK TMII rombongan kami segera menuju ke lokasi berikutnya yaitu Gelanggang
Samudra Ancol. Perjalanan yang dibutuhkan kira-kira sekitar dua jam lebih.
Waktu dua jam itu saya gunakan untuk tidur karena saya juga lumayan mengantuk.
Saat saya berusaha untuk memejamkan mata, tiba – tiba terdengar suara dengkuran
yang lumayan keras. Dan suara dengkuran itu ternyata suaranya Aldo anak kelas
IX A. Tidak lama kemudian akhirnya saya tertidur juga. Dalam tidur, saya
membayangkan suasana di Gelanggang Samudra Ancol yang begitu indah. Saya
tertidur cukup lama karena tak ada gangguan dari teman – teman saya. Tiba –
tiba saya merasakan guncangat yang membuat saya terkaget, ternyata supir bus
rem mendadak karena ada sebuah mobil yang melintas didepannya. Otomatis saya
pun langsung terbangun karena guncangan tersebut. Setelah saya membuka mata,
ternyata saya melihat kendaraan yang berbaris dengan rapi dan berjalan dengan
sangat lambat. Tidak bisa dipungkiri lagi, lagi – lagi bus kami terjebak macet
yang lumayan panjang. Kebanyakan dari murid – murid maupun panitia mengeluh,
takutnya nanti rombongan kami tidak sampai tepat waktu di tujuan. Bus yang saya
naiki berjalan sangat pelan dan beberapa kali saya mendengarkan suara klakson
yang bersautan dari berbagai arah. Saya sudah merasa sangat bosan dan gelisah
dengan semua ini, padahal ini jalan tol mengapa bisa macet separah ini.
Waktupun terus berjalan dan berjalan, akhirnya bus kami sampai di gerbang tol
dan saya pun lega sekali karena sudah merasa terbebas dari gangguan macet yang
menyebalkan itu. Nampak dari kanan dan kiri saya terlihat gedung pencakar
langit yang berdiri kokoh dan seringkali memancarkan sinarnya akibat pantulan
dari cahaya matahari. Saya lumayan senang karena perjalanan yang sekarang ini
lumayan menyenangkan karena dihiasi dengan pemandangan yang sangat indah serta
menakjubkan. Mata saya disuguhkan oleh pemandangan yang amat indah yaitu sebuah
gedung bersaudara yang arahnya menghadap pesis kearah mata saya. Gedung itu
sangat indah dan bentuknya yang bagus. Bus kami melewati jalan layang yang
indah, namun di jalan layang ini udaranya lumayan panas dan agak sedikit
bergelombang jalannya. Setelah melewati jalan layang yang indah, lagi – lagi
bus kami terjebak kemacetan. Untungnya kemacetan ini tidak terlalu parah. Saya
melihat di kanan jalan yang dilalui bus ini, terdapat sebuah sungai yang
berwarna hitam pekat dan penuh sampah yang lumayan banyak. Beberapa saat
kemudian hidung saya mencium aroma yang sangat busuk dan saya segera menutup
hidung saya dengan jaket yang saya pakai. Ternyata bau busuk itu berasal dari
sungai yang dilalui tadi. Memang rata – rata sungai di kota ini airnya sudah
tercemar oleh limbah pabrik. Dan saya perhatikan di sepanjang sungai itu,
airnya tidak bergerak sedikitpun melainkan hanya menggenang dan menghasilkan
bau yang sangat menyengat. Untung saja bus kami terbebas dari kemacetan dan
langsung bergerak cepat mengindari aroma yang menjijihkan tersebut. Setelah
beberapa lama kemudian teman saya melihat tulisan Ancol dari kejauhan. Saya pun
langsung berdiri untuk melihatnya dan ternyata benar. Saya senang sekali
akhirnya sebentar lagi sampai.
Beberapa menit setelah melihat
tulisan tersebut, akhirnya bus kami sampai juga di Gelanggang Samudra Ancol dan
segera enuju ke area parkir. Saat ini kondisi cuaca memang sangat cerah dan
lumayan panas. Bus kami pun berhenti dan kami siap – siap untuk turun. Di area parkir sudah
sangat banyak pedagang asongan yang menawarkan dagangannya antara lain yaitu
payung, kacamata dan aneka topi. Setelah saya turun dari bus, saya langsung
merasakan panasnya terik matahari dan saya kembali naik ke bus untuk mengambil
jaket, semua anak – anak di tuntun oleh panitia untuk berjalan menuju pintu
masuk Ancol ini. Dari area parkir ke pintu masuk lumayan jauh dan membutuhkan
waktu kurang lebih 15 menit. Namun saya tidak merassakan itu karena saya senang
menikmati suasana Ancol ini. Area parkir Ancol tergolong cukup indah dan
lumayan bersih. Suhu udara disini pun cukup segar karena banyak sekali pohon –
pohon yang rindang meskipun kondisi siang ini cukup panas. Setelah sampai di
pintu masuk, panitia membagikan selembar tiket untuk memasuki Ancol ini dan
saya segera masuk karena sudah tidak
sabar lagi. Tiket yang diberikan oleh panitia adalah sebuah tiket yang
terdiri dari tiket untuk masuk ke Ancol dan tiket untuk memasuki Dufan. Suasana
di Ancol sekarang ini lumayan ramai oleh pengunjung baik dari rombongan para
pelajar maupun keluarga yang ingin berekreasi. Saya pun segera mengikuti teman
– teman yang lain supaya tidak tertinggal oleh rombongan sekolah kami. Kami
semua di himbau supaya tetap bergerombol dan sesekali memisahkan diri dari
rombongannya karena dapat menimbulkkan hal – hal yang tidak diinginkan.
B. Kegiatan
– Kegiatan Sewaktu di Ancol
1.
Makan Siang di Ancol
Setelah
rombongan kami sudah berkumpul semua, para panitia menyuruh kami untuk
mengambil jatah makan siang yang sudah di tata rapih di meja. Satu per satu dai
kami mengambil makanan itu. Saat itu saya ke toilet terlebih dahulu karena saya
sudah tidak tahan lagi untuk buang air kecil. Setelah saya selelsai dari toilet
saya pun segera mengambil makanan yang sudah disediakan oleh panitia. Tempat
duduk dan meja makan disini jumlahnya tidak terlalu banyak. Kami pun harus
bergantian. Dan akhirnya saya mendapat tempat duduk juga. Saya mebuka makanan
tersebut dan isinya adalah sebuah nasi dan ayam goreng yang disertai dengan
sausnya juga. Kebtulan saat itu saya lumayan lapar sehingga saya dengan cepat
melahap nasi dan ayam goreng tersebut. Tak lama kemudian saya selesai makan dan
mengambil air minum dan segera mencuci tangan saya, karena tadi saat saya
makan, saya menggunakan tangan supaya lebih mudah dan cepat.
Setelah
makan siang, saya kembali melanjutkan kegiatan saya yaitu menonton 4D. Pada
saat itu saya bersama Abid anak kelas 9 H, kami hanya berdua. Untuk menonton 4
dimensi ini kami bedua harus mengantri untuk memasuki gedung yang seperti
bioskop ini. Banyak anak dari rombongan kami yang putus asa dan akhirnya keluar
dari area pengantrian karena sudah tidak tahan lagi mengantri. Namun saya tetap
bersabar karena sudah lama saya mengantri di sini. Beberapa kali saya dan Abid
menerobos antrian yang banyak ini. Di sini saya berdesak – desakan dengan
pengunjung lain. Dan pada saat saya berdesak – desakan, ada seorang ibu – ibu
yang tiba tiba memarahi kami dengan lantang. Ibu – ibu tersebut terlihat sangat
marah, ibu – ibu ini berkata sudah mengantri dua kali tetapi tidak juga masuk
ke dalam. Dan saya sempat melihat anaknya menangis karena sudah tidak sabar
lagi. Saya dan Abid tidak begitu mendengarkan ap yang ibu ini katakan, saya
hanya menatap ke arah depan dan berusaha untuk menghiraukannya. Penjaga pintu
masuk bioskop ini memberi tahu bahwa para pengunjung tidak boleh saling
berdesakan dan tidak boleh saling drong – mendorong karena disini banyak anak –
anak kecil. Penjaga ini juga berkata lima menit lagi pintu masuk akan segera di
buka, dan saya pun besiap – siap untuk segera menerobos supaya saya dapat masuk
ke dalam. Perjuangan saya pun berhasil.
Akhirnya
saya dan Abid berhasil masuk ke dalam. Bangunan ini berarsitektur seperti bangunan
mesir. Bangunan ini jika dilihat dari luar berbentuk seperti piramida dan pada
dindingnya dibuat relief – relief yang menyerupai aslinya. Di dalam bangunan
ini cahayanya lumayan sedikit sehingga terasa gelap. Di dalam sini juga terasa
panas dan pengap. Saya terpaksa harus berbaris satu persatu karena jalannya
sempit. Akhirnya saya dan Abid sampai di atas dan kami berdua diberi kacamata
untuk menonton nanti. Di atas saya pun harus menunggu film yang sedang di putar
selesai. Beberapa saat kemudian akhirnya pintu masuk bioskop di buka dan tentu
saja para pengunjung berebutan untuk masuk ke dalam. Saya dan Abid pun segera
masuk dan mencari tempat duduk yang nyaman. Setelah semua pengunjung sudah
duduk, pemandu mengatakan supaya duduk dengan benar dan berkata sebentar lagi
filmnya akan di putar. Saat filmnya diputar saya langsung kagum. Gambar pada
layar tersebut terlihat sangat nyata seperti pada kehidupan seperti biasanya.
Sungguh luar biasa. Saat beradegan menegangkan, kursi yang saya duduki juga
ikut bergerak dan mebuat saya terkaget dan seringkali saya berteriak histeris.
Film itu mengganbarkan seekor dinasaurus yang sangat besar dan ingin menerkam
manusia. Saat dinasaurus itu mulutnya menganga lebar, kepala saya terasa ada
didalam mulut dinasaurus tersebut. Saya sangat kagum dengan teknologi yang
canggih ini. Dan adegan yang tidak kalah menarik adalah saat menaiki sebuat
pesawat. Yang membuat saya kaget adalah ketika pesawat sedang mengudara tiba –
tiba ruangan ini juga mengeluarkan hembusan angin yang kuat dan dingin. Semua
penonton yang ada di bioskop ini juga berteriak kaget karena angin yang tiba –
tiba datang dan berhembus dengan kencang. Saya pun melanjutkan melihat film
tersebut. Beberapa saat kemudian, film ini berakhir dan para pengunjung
diisyaratkan untuk keluar melewati pintu keluar yang terdapat di bawah pojok.
Saya sangat senang dan kagum setelah melihat film ini. Pintu keluar bioskop ini
sangat banyak dipadati oleh pedagang – pedagang yang menjajakan dagangannya
disini. Saya pun hanya melihatnya saja dan tidak sama sekali menghiraukannya.
Kemudian kami berdua berjalan menuju wahana yang berikutnya. Namun pada saat
itu, kami berdua kebingungan karena tidak tahu jalan. Saya dan Abid terduduk
sejenak untuk menghilangkan rasa lelah. Setelah itu, kami berdua berjalan –
jalan untuk mencari wahana yang asyik berikutnya.
3.
Atraksi Lumba – Lumba
Setelah
selesai melihat pertunjukan lumba – lumba, saya segera keluar untuk jalan –
jalan dan melihat pemandangan sekitar. Namun setelah saya berjalan beberapa
langkkah saja, saya tidak melihat gerombolan dari rombongan kami. Dan saya
bergegas melihat sekeliling kembali untuk memastikan bahwa mereka semua masih
disini. Setelah saya lihat dengan teliti ternyata rombongan kami kebanyakan
sudah kembali ke bus. Saya dan Abid berusaha untuk mencari jalan keluar, tetapi
kami berdua merasa bingung. Untung saja saya melihat sebuah peta lokasi Ancol
ini terpampang dengan jelas dan saya segera menghampirinya. Setelah melihat
peta tersebut, saya malah terkesan lebih bingung karena dalam peta dijelaskan
dengan jalan yang kecil sehingga saya tidak dapat mengerti. Perasaan takut dan
gelisah pun menghampiri saya. Namun Abid mengajak untuk sekedar mencari jalan
keluar dari tempat ini. Setelah berjalan – jalan agak lama, saya melihat
panitia dari rombongan kami yaitu Pak Aris. Saya melihat Pak Aris sedang
berdiri dan melambaikan tangan kepada kami berdua untuk segera keluar dan
melanjutkan perjalanan selanjutnya. Untung saja ada Pak Aris, jadi kami berdua
segera berjalan menuju pintu keluar yang jaraknya tidak terlalu jauh dari
tempat dimana saya melihat Pak Aris. Setelah berhasil keluar, kami berdua
bergegas untuk menuju tempat dimana bus kami di parkirkan.
Lagi
– lagi kami berdua lupa jalan yang harus dilalui. Saya dan Abid berjalan lurus
ke depan. Seharusnya setelah keluar dari pintu keluar, kita harus belok kiri
untuk menuju area parkir bus. Tiba – tiba saya teringat bahwa jalan yang saya
ambil salah dan dengan cepat saya segera berbelok ke arah kiri untuk mengambil
jalan yang benar. Setelah beberapa lama kemudian, akkhirnya kami berdua sampai
di area parkir bus. Benar dugaan kami berdua, ternyata para paniti sedang
menunggubeberapa muridnya yang terlambat untuk menuju ke bus. Bukan hanya saya
dan Abid saja yang terlambat menuju ke bus, melainkan masih banyak beberapa
murid yang masih berada di dalam kawasan Ancol tersebut. Panitia bus 1 yang
bernama Pak John Mugiyono segera mengabsen para siswa yang berada di dalam bus
1. Ternyata masih ada beberapa anak yang belum sampai diantaranya Aldo, Dinda,
Indah, Hana dan masih beberapa lagi. Panitia pun segera menghubungi anak – anak
tersebut untuk segera kembali ke dalam bus. Bahkan saking lamanya murid di bus
1 tidak lengkap semua, bus lainnya sudah meninggalkan bus 1 karena terlalu
lama. Para siswa pun mengeluh hanya karena beberapa anak saja yang belum hadir,
bus lainnya meninggalkan bus 1 ini. Setelah ditunggu – tunggu, anak – anak yang
belum datang akhirnya datang juga dan segera masuk. Panitia pun segera menyuruh
masuk siswa – siswa yang masih di bawah untuk masuk ke dalam bus. setelah semua
siswa sudah masuk ke dalam bus. Bus 1 pun segera meluncur untuk menyusul bus
yang sebelumnya. Tujuan kami selanjutnya adalah Dufan.
BAB
V
DUNIA
FANTASI
A.
Sampai di Dunia Fantasi
Setelah menikmati keindahan Ancol,
rombongan kami pun segera melanjutkan ke tujuan selanjutnya yaitu Dunia Fantasi
atau sering kita sebut Dufan. Perjalanan menuju Dufan hanya memakan waktu
sekitar 5 menit saja. Jarak Ancol dengan Dufan memang sangat dekat sehingga
butuh waktu sebentar untuk sampai disana. Setelah bus kami sampai di area
parkir dufan, saya dan teman – teman segera turun dari bus dan langsung menuju
ke pintu masuk dufan ini. Saya memang sudah tidak sabar lagi unntuk masuk ke
dufan ini. Saya ingin merasakan semua wahana yang extrem yang sudah disuguhkan
oleh dufan ini. Setelah saya sampai di pintu masuk, saya segera mengambil tiket
yang saya letakan di saku celana. Petugas pintu masuk Dufan ini sangat cantik,
dan saya segera memberikan tiket kepada petugas yang cantik itu. Saya sempat
melihat siswa dari kelas IX D yang sedang berdiri di pinggir petugas cantik
itu, seteah saya lihat dengan seksama ternyata anak itu kehilangan tiket untuk
masuk ke dufan ini. Mata anak itu berkaca – kaca seperti hendak menangis dan
ketakutan. Petugas pintu masuk sempat berkata untuk mencari panitia rombongan
supaya mengatasi hal ini. Namun saya sudah terlanjur masuk kke dufan ini dan
tidak tahu cerita selanjutnya. Saya sangat kagum dan heran setelah masuk ke
dalam sini. Pemandangan dan desain bangunan – bangunan yang ada disini sungguh
luar biasa dan menakjubkan. Saya segera menuju ke wahana yang akan saya coba.
Sebelum mencoba salah satu wahana disini, saya menungggu Abid di dekat pintu
masuk. Namun setelah saya menunggu lama, ternyata Abid sudah berada jauh di
depan. Sehingga pada saat itu saya hanya berdua yaitu saya dengan Nahar siswa
kelas IX A. Suasana sekarang ini tergolong ramai dan cuacanya sangat mendukung.
B.
Menikmati Wahana – Wahana di Dufan
Kami berdua pun segera menuju ke
salah satu waha yang kami tuju. Namun pada saat itu, saya agak bingung akan
mencoba wahana mana yang terlebih dahulu. Berikut ini adalah beberapa wahana –
wahana yang saya coba diantara lain :
1.
Hysteria
Wahana
yang satu ini tergolong cukup extrem dan menegangkan. Saya bersyukur pintu
masuk wahana ini tidak terlalu ramai. Pada awalnya saya merasa takut dan ingin
membatalkan niat saya untuk mencoba wahana ini. Tetapi teman saya begitu ngotot
untuk mengajak dan saya hanya terdiam ketakutan. Keringat dingin langsung
mengucur dengan derasnya. Saat saya berada di area pengantrian, saya melihat ke
luar dan melihat langsung manuisa – manusia yang dilontarkan ke atas begitu
saja. Bulu kuduk saya langsung berdiri semua setelah melihat itu. Sedikit lagi
antrian saya segera berakhir. Saya terus berdoa dan berdoa karena pada saat ini
saya sangat merasa takut untuk mencobanya. Dan giliran saya pun sudah datang.
Saya menuju ke tempat duduk hysteria dan segera mengunci pengamannya. Saya
mulai gemetar dan ketakutan. Tiba – tiba saya merasakan mulai naik ke atas
dengan perlahan dan dengan begitu saja saya dilontarkan ke atas dan dijatuhkan
kebawah dengan begitu cepat dan dahsyat sekali. Saat saya dijatuhkan ke bawah
saya sangat merasakan jiwa saya masih tertinggal di atas. Ekspresi brutal pun
keluar dari wajah saya dengan begitu saja. Akhirnya penderitaan saya saat naik
wahana hysteria ini selesai sudah, saya langsung membuka pengaman dan bergegas
keluar dari area wahan hysteria ini. Saat saya berjalan ke luar, badan saya
merasa sempoyongan dan merasa pusing sekali. Untung saja saat itu ada temn saya
yang namanya Nahar siswa dari kelas IX A. Saat berjalan menuju pintu keluar,
terlebih dahulu saya melihat hasil foto yaitu foto saat saya dan Nahar berada
di atas hysteria tersebut. Saya langsung tertawa begitu saja setelah melihat
foto tersebut. Petugas di pintu keluar tersebut menawarkan untuk mencetak foto
– foto tersebut untuk dijadikan kenang – kenangan dan saya tnpa berfikir
panjang menyetujui usulan tersebut. Saya begitu bingung dan merasa sangat heran
kenapa foto wajah saya begitu sangat brutal dan sangat abstrak tidak beraturan.
Petugas tersebut pun segera mencetak foto kami berdua. Saya dan Nahar memilih
foto yang berukuran kecil yng harganya Rp 35.000,00 sedangkan yang besar
harganya Rp 50.000,00. Kami berdua memilih yang harganya lebih murah. Akhirnya
foto tersebut berhasil dicetak dan kami berdua segera keluar untuk mencoba
wahana selanjutnya. Setelah keluar dari wahana hysteria ini, saya melihat Abid
dan teman – temannya dan mengajak kami berdua untuk mencoba wahana arum jeram.
Pada awalnya kami semua memang tidak tahu dimana lokasi arum jerang itu.
Daripada kami bingung, saya berinisiatif untuk tanya kepada salah satu petugas
kebersihan di dufan ini. Setelah saya bertanya, ternyata wahana arum jeram
sedang ditutup dikarenakan sedang ada pembaruan. Kami nampak kecewa setelah
mendengar kabar seperti itu. Selanjutnya kami beranjak pergi pergi untuk mencoba
wahana yang lainnya.
2.
Halilintar
Wahana halilintar termasuk wahana yang
cukup extrem di Dufan ini. Saya harus rela mengantri panjang demi mencoba
wahana yang menantang ini. Pada awalnya banyak teman – teman saya yang putus
asa dan memilih hanya menonton saja. Namun tiba – tiba mereka akhirnya masuk
juga karena rasa penasaran yang luar biasa. Waktupun terus berjalan dan antrian
pun semakin pendek. Kira – kira waktu yang dibutuhkan untuk mengantri sekitar
20 menitan. Saya sempat melihat saat kereta halilintar ini berjalan. Saya lebih
mengenalnya dengan sebutan rouller coster. Rouller coster ini pada saat awalnya
hanya berjalan dengan kecepatan yang sangat lambat. Dan begitu saja terpental
dengan cepat sekali hampir sama kecepatannya dengan hysteria yang baru saja
saya coba. Akhirnya giliran saya untuk naik. Setelah saya naik saya langung
mengunci pengaman yang berada tepat di depan dada saya. Namun saya merasa
pengaman itu tidak berfungsi dan hanya berfungsi sebatas pelindung dada yang
tiddak terkunci. Namun pikiran saya itu salah. 5 detik sebelum kereta luncur
ini berjalan saya mendengar suara yang berasal dari pengaman ini. Setelah saya
periksa ternyata pengaman ini sudah terkunci sebagaimana mestinya. Saya
merasakan kereta luncur ini berjalan lambat dan kemudian kecepatannya mulai
bertambah dan kereta luncur ini tiba – tiba berjalan miring namun masih
berkecepatan sedang dan mulai naik ke atas dan akhirnya meluncur ke bawah
dengan kecepatan yang luar biasa dahsyatnya. Tidak hanya itu saja, rintangan
berikutnya pun tidak kalah menarik yaitu berputar diudara dengan kecepatan yang
luar biasa cepatnya. Setelah rintangan berputar di udara, akhirnya kereta
luncur berhenti dan pengaman tiba – tiba terbuka dengan sendirinya. Setelah itu
saya keluar dari arah kiri dan melewati percetakan foto seperti yang ada di wahana
hysteria tadi. Namun hasil foto di wahana ini tidak sebagus seperti yang ada di
hysteria. Kami berdua pun segera keluar ke arah pintu keluar dan melanjutkan ke
wahana selanjutnya yaitu wahana bianglala.
3.
Bianglala
Setelah keluar dari wahana halilintar
tadi, kami pun langsung berjalan menuju wahana bianglala. Setelah berjalan
lumayan jauh, akhirnya sampai juga di wahana
ini. Antrian disini lumayan tidak terlalu panjang. Lokasi pengantrian
bianglala ini sungguh indah. Bangunan yang berarsitektur seperti bangunan China
pada umumnya. Serba merah dan atapnya sangat khas dengan bangunan China. Saya
sempat melihat anak yang tidak sabar menunggu antrian dan akhirnya keluar juga
namun beberapa saat kemudian akhirnya masuk kembali. Setelah berada di dalam,
saya melihat ke arah atas dan luar biasa indahnya dan besarnya. Akhirnya saya
sampai juga di tempat untuk naik bianglala ini. Sebelum saya naik, para petugas
wahana bianglala ini membagi – bagi jumlah orang untuk dinaikkan ke salah satu
tempat di bianglala ini. Kincir angin ini berputar dengan kecepatan yang stabil yang
artinya kecepatannya tidak berubah – ubah. Bianglala ini tidak seperti
bianglala yang berada dipasar malam. Kalau di pasar malam, kecepatannya dapat
berubah – ubah sesuai yang diinginkan oleh petugas, namun di bianglala dufan
ini tidak. Akhirnya putaran kincir angin raksasa ini berhenti juga dan kami pun
segera menaiki tempat yang sudah disediakan. Pada saat itu tempat yang saya
duduki berisi 6 orang yang diantaranya 4 anak dari rombongan kami dan 2 orang
pengunjung lainnya.
Kincir
ini terus berputar dengan lambat dan akhirnya kami sampai di titik paling atas
dan sempat berhenti sebentar. Saat kincir angin ini berhenti, tiba – tiba tempat
yang saya duduki berputar karena diputar oleh salah satu pengunjung laki –
laki. Sontak saya langsung berpegangan erat di pegangan dan beberapa memejamkan
mata karena saya pada saat ini sangat merasa ketakutan. Memang saya akui, saya
termasuk anak yang takut dengan ketinggian. Saat sedang diputar – putar
akhirnya kincir angin ini kembali berputar dan saya merasa lega sekali. Saya
melihat di sekeliling dan melihat semua wahana yang ada di Dufan dengan jelas.
Saat putaran kedua, prngunjung 2 orang itu menyuruh kami untuk biasa – biasa saja
dan malahan menyuruh kami untuk berfoto – foto. Sempat beberapa kali pengunjung
2 orang itu juga befoto – foto dengan asyik dan tidak memperdulikan keadaan
sekitarnya. Pada putaran ke 3 saya ingin benar – benar melihat dan
memperhatikan dengan jelas jenis – jenis wahana yang ada disini. Pemandangan
Ancol pun juga terlihat dari atas. Saya juga melihat betapa banyaknya
pengunjung yang memadati tempat ini. Saya melihat satu wahana yaitu wahana
tornado, saat itu wahana ini sangat sepi dan wahananya dijalankan namun tidak
ada yang menaikinya. Dan saya sempat mendengar pembicaraan dua orang pengunjung
itu yang mengatakan wahana tornado itu berbahaya dan jika akan menaiki wahana
ini ada salah satu kursi yang harus dikosonginya. Saya pun agak ketakutan untuk
mencoba wahana tornado setelah mendengar pembicaran 2 orang pengunjung ini.
Pada putaran ke 4 saya sudah merasa bosan dan benar – benar ingin berhenti dan
keluar untuk melanjutkan dan mencoba wahana yang lainnya. Akhirnya pada putaran
ke lima kincir angin ini berhenti dan saya pun segera turun karena sudah sangat
merasa bosan dengan wahana biang lala ini. Saya tidak memperdulikan sama sekali
hasil foto yang berada di pintu keluar karena pada saat itu saya sangat kebelet
dan ingin sekali buang air kecil.
Setelah keluar dari area wahana ini,
kami berdua sama – sama ingin pergi ke toilet dan kami pun segera mencari
toliet. Saya sempat melihat teman – teman dekat saya dan mengajaknya bergabung.
Namun saya sangat kebelet dan akhirnya saya hanya memanggilnya saja dan
melanjutkan berjalan menuju toliet. Pada saat ini saya tidak tahu lokasi toilet
yang ada disini. Kami berdua hanya berjalan menyusuri jalan yang hanya disini.
Setelah berjalan lumayan jauh dan lumayan lama. Kami berdua tidak menemukan
toilet dan hanya menemukan toilet wanita. Saya pun memberanikan diri untuk
bertanya kepada salah satu petugas kebersihan yang sedang menyapu di area ini.
Setelah saya bertanya akhirnya petugas kebersihan ini menunjukan arah yang
menuju ke toilet, dan saya pun berlari langsung menuju ke toilet karena ras
kebelet yang sudah tak tertahankan lagi. Akhirnya saya berhasil masuk ke toilet
dan merasakan rasa lega yang luar biasa hebatnya. Kami berdua sempat mencuci
muka kami karena sudah terlihat sangat kusam dan agak berminyak. Untung saja di
toilet ini tidak dikenakan biaya alias gratis. Setelah selesai, kami pun segera
meluncur keluar untuk mencoba wahana yang lainnya. Saya sangat ingin bertemu
dengan teman – teman dekat saya untuk berkumpul bersama dan mencoba wahana yang
ada disini bersama. Dan saya pun segera menuju ke tempat dimana saya melihat
teman – teman saya. Namun setelah saya menuju ke tempat dimana saya melihat
mereka, mereka sudah tidak ada lagi dan saya terpaksa harus berduaan terus
dengan Nahar. Saya sangat ingin mencoba wahana Ice Age dan akhirnya kami berdua
pun seera menuju ke wahana ini.
4.
Ice Age Adventure
Dari awal masuk ke Dufan ini, mata saya
langsung menuju ke arah wahana ice age ini. Dan akhirnya, saya akan mencoba
wahana ini. Antrian di wahana ice age adventure ini memang antrian yang
terpanjang dari wahana – wahana yang saya coba sebelumnya. Kami berdua langsung
masuk ke dalam area pengantrian di wahana ini. Sungguh luar biasa panjangnya
antrian yang ada disini. Saya sempat melihat banyak sekali pengunjung yang
putus asa dan keluar dari area pengantrian ini. Namun saya sangat penasaran
dengan wahana ini dan saya pun rela menungu lama untuk mencoba wahana ini.
Waktu pun terus berjalan dan antrian di belakang saya semakin banyak juga
meskipun didepan saya juga sangat banyak pengunjung yang sedang mengantri.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya saya berhasil masuk ke dalam wahana ini.
Dan saya pun sangat senang akhirnya bisa mencoba wahan ini. Namun dugaan saya
selama ini salah total. Setelah saya masuk ke dalam bangunan ini bukan berarti
langsung mencoba wahana yang ada didalmnya namun didalam bangunan yang cukup
besar ini, kami semua juga harus tetap mengantri. Saya sangat merasa tertipu
dan sangat lelah dari tadi hanya menunggu dan menunggu terus. Antriannya pun
hanya bergerak sangat lambat dan jika di ibaratkan seperti kemacetan parah di
Jakarta. Suhu di dalam bangunan ini sangat dingin dan cahayanya juga lumayan
gelap seperti berada didalam gua. Waktu untuk mengantri wahana ini kira – kira
membutuhkan waktu sekitar 30 menit kurang. Waktu tersebut jika untuk mecoba
wahana lain dapat mencoba sekitar 3 wahana. Namun sudah tidak dapat dipungkiri
lagi saya harus bersabar demi wahana yang indah ini. Akhirnya waktu yang sudah
saya tunggu – tunggu datang juga. Saya berhasil sampai di inti daripada wahana
ini. Saya sempat merasa keheranan ternyata wahana ini seperti sebuah perahu
yang berjalan lambat dan menikmati kejutan secara tiba – tiba yang mengagetkan.
Petugas wahana ice age adventure pun segera membagi – bagi pengunjung karena
dalam satu perahu hanya dapat menampung sekitar 9 orang. Rombongan 9 orang yang
saya berada didalamnya segera disuruh untuk menaiki perahu yang sudah berhenti
tepat di depan mata saya. Saya segera menaiki perahu ini. Setelah sudah naik
semua, perahu ini pun berjalan dengan kecepatan yang tidak terlalu cepat dan
tidak terlalu lambat. Air yang ada disini sangat dingin dan beberapa kali saya
sempat menggigil karena kedinginan. Penumpang perahu yang saya tumpangi juga
sempat mengatakan hal yang sama seperti yang saya ucapkan. Mereka juga sempat
memuji tempat ini karena keindahannya. Pada awalnya saya mengeluh karena sudah
terlalu lama mengantri dan memang jika semakin panjang antrian semakin bagus
jua wahana yang diantrinya. Saya sangat akui arsitektur dalam bangunan sangat
indah dan sangat realistis yang artinya sama seperti yang aslinya. Seperti yang
saya duga, disini juga terdapat gambar – gambar yang tiba – tiba muncul yang
dapat membuat saya kaget begitu juga penumpang yang lainnya.
Tiba – tiba perahu kecil ini naik dengan
perlahan lahan dan akhirnya sampai juga diatas. Setelah sampai diatas, saya
juga sempat terkaget karena ada cahaya yang datang dengan tiba – tiba. Ternyata
cahaya itu adalah blits kamera yang tersembunyi. Untung saja blits kamera itu
menyala dua kali. Cahaya yang pertama menandadakan para penumpang untuk bersiap
gaya narsis dan cahaya yang kedua adalah untuk memotretnya jalur yang ada
didalam ini cukup panjang karena hanya berputar – putar saja. Kami disuguhkan
oleh sebuah tokoh yang ada difilm ice age diantara lain seekor mamot dan singa
yang sedang bergerak – gerak persis seperti aslinya. Setelah itu saya melihat
tulisan yang bertuliskan ‘’segera berpegangan di peangan karet yang sudah
disediakan karena kereta perahu akan segera meluncur’’. Setelah saya membaca
tulisan dari kejauhan, kami semua dikagetkan oleh seekor dinasaurus yang sangat
besar yang tiba – tiba mucul dihadapan kami. Setelah di kejutkan oleh
dinasaurus tadi, tidak lama kemudian perahu yang kami naiki meluncur kencang ke
arah bawah dengan kecepatan yang sangat cepat. Sontak semua penumpang berteriak
histeris ketakutan dan kaget. Dan saat perahu sampai kebawah, air yang
tertabrak perahu langsung membasahi baju saya. Memang pada saat itu saya duduk
di paling depan. Saat perahu ini meluncur, luncurannya sangat mirip dengan
wahana halilintar atau roller coster. Saya sangat terkaget dan histeris saat
perahu ini meluncur. Namun setelah tidak lama kemudian perahu ini meluncur,
petualangan kami pun telah usai. Sempat beberapa kali pengunjung lainnya
berteriak dan mengucapkan kata lagi dan lagi. Saya pun juga mengikutinya. Namun
semua itu sia – sia. Setelah kami sampai di tempat pemberhentian perahu,semua
penumpang turun dari perahu dan bergegas keluar dari arah kiri dari jalan yang
sudah ditentukan. Saya sangat senang setelah mencoba wahana yang menakjubkan
ini.
Setelah kami berdua keluar dari wahana ini,
saya melihat pengunjung di tempat ini sudah semakin berkurang. Pengantrian
wahana ice age ini juga sudah ditutup karena wahana ini buka dari jam 2 siang
sampai jam 6 sore. Dan saya pun jarang melihat anak – anak dari rombongan kami.
Tidak lama kemudian setelah kami keluar dari wahana ice age ini, saya melihat
rombongan kami dan saya pun bergegas untuk menghampirinya. Sempat beberapa kali
saya dan teman – teman berfoto sejenak di depan wahana ice age dan wahana
bianglala. Setelah berfoto sejenak, saya mendekati sebuah kipas angin besar
yang mengeluarkan uap air dan saya berdiri didepannya. Alangkah segar dan dingin
kipas angin disini. Saya lumayan lama berdiri di depan kipas angin besar ini
sampai – sampai saya ditinggalkan oleh teman – teman saya. Semakin malam,
pemandangan dan suasana Dufan ini justru semakin ramai dan gemerlap oleh lampu
– lampu taman yang indah. Saat kami melewati jalan untuk keluar dari Dufan ini,
saya sempat berhenti sejenak di sebuah panggung yang sedang mementaskan sebuah
acara dangdut dan saya juga memotret salah satu penyanyi yang sedang berdiri di
panggung tersebut. Setelah selesai memotret kami melanjutkan jalan untuk
keluar. Namun ketika saya melangkahkan langkah selanjutnya saya melihat dua
pasang badut dufan yang sedang bergoyang ria dan saya sempat ingin
menghampirinya dan ingin mengajak badut itu untuk berfoto. Dan sayapun segera
menghampiri badut tersebut dan mengajaknya untuk berfoto. Badut dufan itu
sangat lucu dan besar jadi saya lumayan lama berfoto dengannya. Setelah
mengambil beberapa foto bersama badut itu, saya disuruh untuk memfoto badut itu
dengan teman – teman saya dan saya pun mengiyakannya. Setelah selesai berfoto
ria dengan badut dufan, saya segera melanjutkan perjalanan untuk keluar dari
dufan ini. Ketika sedang berjalan menuju pintu keluar, saya merasa haus dan
ingin membeli minuman. Dan saya segera mencari penjual minuman di sekitar sini..
Tidak lama kemudian saya menemukan penjual minuman yang berada tepat di
belakang pintu keluar Dufan. Saya pun membeli minuman tersebut dn meminumnya
dengan lahap. Rasa hauspun yang ada di benak saya hilang seketika. Setelah minum
air, saya segera berjalan keluar untuk menuju ke area bus.
Ketika
saya keluar dari Dufan ini, saya disuguhkan dengan pemadangan lampu yang sangat
indah dan gemerlap. Pada saat keluar, saya hanya berdua dengan Nahar. Kami
berdua juga sempat membalikan badan dan melihat pintu masuk Dufan. Ternyata
apabila malam, pintu masuk Dufan ini sungguh berbeda dibandingkan jika siang
hari. Yang membedakannya adalah lampu – lampu penghias yang berada di setiap
sudut bangunan ini. Kemudian kami berdua berjalan lagi menuju ke parkiran bus.
Ada kejadian yang menyebalkan ketika kami sedang berjalan menuju ke parkiran
yaitu seorang pedagang kaki lima yang sedang menjual dagangannya. Anehnya
pedagang itu memaksa untuk membeli dan terus memaksa. Pedagang itu juga sempat
mengikuti kami sambil menawarkan dengan cara yang tidak baik. Kami berdua tidak
menanggapinya dan penjual itu pun pergi dengan sendirinya. Ketika sampai di
bus, saya dan teman – teman duduk bersama di bawah bis untuk berfoto dan
menunggu datangnya adzan maghrib. Beberapa lama kemudian, telinga kami
mendengar suara yang begitu indah yaitu suara adzan dari salah satu masjid
dekat area ini.
C.
Melaksankan Sholat Maghrib
Setelah terdengar suara adzan
maghrib, semua siswa yang beragama Islam di suruh oleh panitia untuk
melaksanakan sholat maghrib. Untung saja, di dekat area parkir bus terdapat
mushola kecil dan kami semua berbondong – bondong enuju mushola itu.. namun
pada saat itu saya masih terduduk di dalam bus entah karena lelah atau yang
lain. Saya melihat ke arah bawah bus ternyata antrian wudlu sanga panjang. Dan
saya memilih menunggu sampai antriannya tidak terlalu panjang. Kemudian saya
segera turun dan menuju ke arah mushola tersebut. Meskipun jarak mushola dengan
bus lumayan dekat, namun jalan yang dilewati harus berjalan memutar dikarenakan
di sekitar area mushola ini terdapat pagar besi yang lumayan tinggi. Saya
mengikuti teman – teman yaitu dengan melalui lubang kecil yang berada di bawah
pagar besi ini. Setelah sampai di mushola saya segera mengambil air wudlu dan
melaksanakan sholat maghrib. Setelah selesai melaksanakan sholat maghrib, tiba
– tiba saya mencium bau yang sangat menyengat dan bau itu seperti bau sepiteng.
Tidak hanya saya saja yang mencium bau tersebut tetapi teman – teman saya juga
menciumnya.kemudian kami semua kembali ke bus kami masing – masing. Tidak lama
kemudian, panitia menyuruh kami semua untuk naik ke bis dan bersiap – siap
untuk makan malam dan melanjutkan perjalanan pulang.
BAB
VI
PERJALANAN
PULANG
A. Makan
Malam di Laut Biru
Setelah
semua siswa sudah masuk ke dalam bus, bus kami pun segera meluncur menuju
sebuah rumah makan. Rumah makan ini bernama rumah makan Laut Biru. Waktu yang
dibutuhkan untuk sampai di tempat ini tidak terlalu lama. Waktunya hanya
sekitar 15 menit lebih. Jalan yang dilalui sungguh indah dan rapih. Terdapat
banyak sekali lampu yang berwarna – warni dan berkelap kelip di mana – mana.
Tidak lama kemudian bus kami berhenti dan panitia mengatakan sudah sampai di
rumah makan Laut Biru. Semua siswa pun segera turun dari bus dan berjalan
menuju rumah makan ini. Panitia memberi tahu antrian putri dan putra. Kebetulan
antrian putra terdapat di ujung rumah makan ini. Saya segera menuju ke tempat
antrian tersebut. Kami semua harus mengantri untuk mengambil jatah makanan.
Saya mengambil sebuah piring dan sendok. Menu makanan yang ada di rumah makan
ini tidak terlalu nikmat. Hanya satu buah daging ayam goreng dan sedikit sup
yang berisi sedikit sayuran. Namun pada saat itu saya lumayan lapar dan segera
makan dengan lahap. Tidak ada hitungn menit, saya sudah selesai menghabiskan
makanan tersebut. Ketika saya sudah selesai makan, banyak teman – teman saya
yang menuju ke utara. Saya pun mengikuti mereka. Tidak saya duga, ternyata
rumah makan ini berada di tepi laut dan jaraknya pun dekat dengan laut.
Kemudian banyak sekali teman – teman yang menuju ke tepi laut ini. Pemandangan
disini sangat indah dihiasi oleh lampu – lampu taman yang banyak dan angin
disini cukup kencang. Waktu untuk melaksanakan perjalanan pulang memang masih
sekitar 1 jam lebih. Dan para siswa diperbolehkan untuk pergi menuju ke tepi
laut tersebut. Di pinggir laut, tentu saja saya dan teman – teman mengabadikan
momen – momen indah ini dengan berfoto bersama. Kemudian kami semua menuju ke
arah timur karena di sana terdapat sebuah jembatan namun jembatan itu tidak
sampai ujung hanya setengah saja. Tempat itu pun sangat cocok untuk di jadikan
latar belakang untuk berfoto oleh kami. Di tempat ini banyak sekali orang –
orang yang sedang berpacararan. Tidak hanya kami saja, banyak pengunjung lain yang
memanfaatkan objek indah ini untuk berfoto. Angin disini lebih kencang
dibandingkan di tempat yang tadi. Namun
suasana disini sungguh indah dan dapat membuat hati kami lega. Kami semua sudah
cukup lama dan merasa lelah. Akhirnya kami duduk bersama di pinggiran jembatan
ini dan melihat pemandangan yang inda di sekitar sini. Di sebelah selatan
jembatan ini terdapat gedung yang menjulang tinggi. Gedung ini berkelap – kelip
seperti bintang. Tidak lama kemudian, saya melihat teman – teman yang lain
berjalan menuju ke arah bus. kami semua pun bergegas menuju ke bus. Namun
ketika berjalan, kami masih sempat berfoto juga dengan berbagai model dan gaya.
Sampai – sampai kami akan tertinggal oleh rombongan karena tengah asik berfoto.
Ketika saya sampai di area parkir bus, saya melihat semua siswa sudah naik
semua ke dalam bus. Untung saja saya tidak tertinggal oleh rombongan. Setelah
semua siswa sudah naik semua ke dalam bus, rombongan kami segera meluncur untuk
melanjutkan perjalanan pulang.
B.
Perjalanan Pulang
Kegiatan di Jakarta pun selesai
sudah. Sekarang, kami semua akan melanjutkan perjalanan pulang. Saya merasa
belum puas menjelajahi kota yang indah ini. Jalan yang kami tempuh untuk
perjalanan pulang berbeda dengan jalan yang ditempuh ketika berangkat. Saat
perjalanan pulang saya tertidur pulas dengan begitu nyenyaknya. Saya tertidur
cukup lama. Teman – teman saya juga tertidur juga karena kelelahan akibta
kegiatan – kegiatan yang dilakukan saat siang hari. Bus kami pun tampak sangat
sepi. Tidak ada suara apapun yang ada di dalam bus ini. Beberapa jam kemudian
saya terbangun karena bus berhenti. Ternyata bus berhenti di sebuah tempat oleh
oleh yang berada di Jawa Barat. Sebenarnya saya masih sangat mengantuk. Dan
saya pun hanya duduk di dalam bis saja. Beberapa saat kemudian saya diajak oleh
teman saya untuk menemani membeli baju. Saya teringat karena saya juga akan
membeli baju. Kami berdua pun turun dari bus untuk membeli baju. Setela kami
turun, suasana disini cukup ramai meskipun sudah tengah malam. Kami melihat
toko – toko disini yang menjual baju. Cukup banyak yang menjual baju disni.
Kami pun menghampiri salah satu toko yang menjual baju. Setelah saya masuk,
ternyata harga baju disini mahal – mahal dan kami berdua pun keluar karena
selain mahal baju disini juga desainnya jelek. Kami pun mencari toko yang lain.
Sama dengan toko sebelumnya, baju – baju disini harganya sangat mahal dan tidak
sepadan dengan bahannya. Saya pun membatalkan niat saya untuk membeli baju.
Sayapun pergi menuju toko makanan yang ada di sekitar sini. Banyak sekali
penggunjung yng memadati toko ini. Dan saya pun segera memilih oleh – oleh.
Seperti biasanya, saya hanya membeli setengah kilo dodol garut dan sebungkus
makanan kering. Harga makanan disini juga tidak kalah mahal. Harga dodol per
kilo sekitar Rp 60.000,00. Maka dari itu saya hanya membeli setengah kilo saja.
Setelah membeli makanan ini saya menuju ke dalam bus. Oleh – oleh tersebut saya
masukan ke dalam bagasi bus yang berada
di samping bus. Setelah semua siswa sudah masuk ke dalam bus, rombongan kami
segera melanjutkan perjalanan pulang. Beberapa menit kemudian setelah bus ini
berjalan, saya kembali tertidur pulas. Saat perjalanan pulang saya hanya
tertidur dan tidak melihat pemndangan sekitar atau jalan yang dilewati bus
kami. Saya terbangun sejenak karena terkaget oleh guncangan yang diakibatkan
supir rem mendadak. Ketika terbangun, saya melihat jam menjunjukan pukul 2 dini
hari. Tidak lama kemudian saya tertidur kembali. Suhu di dalam bus sangat
dingin sekali. Badan saya dihiasi denngan jaket tebal dan sebuah sarung yang
lebar. Namun semua itu tidak berpengaruh. Tetap saja saya kedingininan dan
tidak disadari saya tertidur kembali.
Tidak tahu kenapa, saat perjalanan pulang saya
begitu nyaman untuk tidur tidap seperti pada saat berangkat. Kemudian saya
sedikit mendengarkan suara adzan, namun saya mengira itu hanya mimpi saja. Saya
pun sedikit membuka mata dan ternyata ini sungguh adzan subuh. Saya hanya
membuka mata sebentar kemudian saya melanjtukan tidur kembali. Tiba – tiba
kepala saya jatuh ke arah samping dan sontak saya terbangun. Ketika terbangun
ternyata hari pun sudah pagi. Akibat dari kepala saya yang terjatuh, saya tidak
bisa tertidur kembali. Jalan yang dilewati nampak sepi karena masih pagi. Pada
saat itu waktu menunjukan pukul 5 pagi. Hari pun semakin terang seiringnya
dengan berjalannya waktu. Panitia memberi tahu kami ternyata sekarang kami
sedang berada di daerah Bumiayu dan sebentar lagi kan memaasuki wilayah
Ajibarang. Jarak menuju rumah saya pun semakin dekat. Memang betul adanya,
sekarang kami berada di daerah Ajibarang. Banyak sekali pedagang yang membawa
dagangannya menuju pasar untuk dijual. Tidak lama kemudian, kami sampai di
Purwokerto dan melewati lintasan kereta api. Panitia mengatakan jika siswa yang
rumahnya dilewati boleh turun sekalian supaya tidak merepotka orang. Tidak saya
sadari ternyata sekarang sudah sampai di Patikraja. Kemudian saya membereskan
dan bersiap – siap untuk turun. Setelah sampai di jalan yang akan masuk menuju
ke rumah saya, bus berhenti dan saya pun berpamintan dengan melambaikan tangan
kepad semua yang ada di dalam bus dan segera turun. Saya menyuruh kernet bus
untuk membuka bagasi mobil. Saya pun segera mengambil barang – barang saya yang
berada di dalam bagasi dan kernet bus itu langsung menutup kembali. Bus pun
kembali melaju untuk menuju ke sekolah.
C.
Sampai di Rumah
Jarak dimana tempat saya trun dari
bus tadi ke rumah saya memang tidak terlalu jauh. Saya pun berjalan untuk
menuju ke rumah. Setelah 5 menit kemudian, saya sampai di rumah. Ketika masuk
rumah saya mengucapkan salam terlebih dahulu dan langsung menuju ke kamar dan
meletakan semua barang bawaan. Setelah itu, saya segera masuk ke kamar mandi
untuk cuci muka dan buang air kecil. Mata saya pun kembali mengantuk. Setelah
keluar dari kamar mandi saya langsung masuk ke dalam kamar untuk berganti baju
dan celana kemudian saya membaringkan badan saya di ranjang dan tidak saya
sadari ternyata saya tertidur.
PESAN DAN KESAN
A.
Pesan
ð Untuk
semua teman – teman dan panitia supaya tetap menjaga kebersihan lingkungan
sekitar. Sempat beberapa kali saya melihat beberapa anak yang begitu mudah
membuang sampai tidak pada tempatnya.
ð Untuk
teman – teman supaya tidak membuat keributan atu sesekali mengerjai teman yang
lainnya. Karena hal itu dapat membahayakan kedua belah pihak. Dan supaya tidak
ada hal – hal yang tidak dinginkan karena kita tidak berada di daerah kita
sendiri.
ð Untuk
panitia study tour diusahakan dapat mengkoordinir jalannya kegiatan supaya pada
saat kegiatan dimulai dapat berjalan dengan lancar serta memberi informasi
harus jelas kepada siswa – siswanya supaya tidak ada hal – hal yang tidak
diinginkan. Kemudian jika ada sesuatu apapun yang harus diralat, sesegeralah
menginformasikan kepada semua siswa supaya siswa tidak merasa kebingungan.
ð Untuk
supir bus supaya dalam mengemudi tidak terlalu egois. Beberapa kali saya
perhatikan, bus yang saya tumpangi sering menggunakan hak jalan pengemudi lain.
Hal itu dapat beresiko fatal. Selain itu, para supir harus menaati setiap
pertauran dan rambu – rambu lau lintas.
ð Untuk
kita semua, kita harus senantiasa menjalankan kewajiban kita sebagai siswa yang
benar dan sebagai pendamping yang benar. Selalu menjaga diri kita masing –
masing serta berdoa kapanpun dan dimanapun kita berada. Kita juga harus selalu
menjaga kesehatan fisik dan tidak boleh memaksakan sesuatu yang tidak bisa diri
kita lakukan.
B.
Kesan
ð Saya
mendapatkan sejuta informasi dan pengalaman setelah mengikuti kegiatan widya
wisata ini. Semoga informasi dan pengalaman yang kita semua dapatkan dapat
berguna dalam kegiatan sehari – hari maupun bagi masa depan kita.
ð Dalam
kegiatan widya wisata ini, kita semua dapat meningkatkan kemandirian diri kita
sendiri. Tidak selalu menggantungkan diri kepada orang lain.
ð Kita
semua juga dapat meningkatkan tali persaudaraan antar sesamanya.
ð Kegiatan
ini memberi kita pelajaran tersendiri dimana kita harus merasa senang, merasa
takut, dan merasa sedih.
ð
Yang terakhir, saya sangat
berterimakasih kepada semua teman – teman, panitia widya wisata karena sudah
menjadi panutan yang baik. Berkat kalian dan kegiatan ini saya dapat
meningkatkan tingkat kedisiplinan, kemandirian serta mental saya. Sekali lagi
saya merasa sangat berterimakasih kepada kalian semua. Banggalah menjadi anak
Indonesia !
KESIMPULAN
Setelah saya mengikuti kegiatan
widya wisata tahun pelajaran 2014/2015 ini, saya menyadari bahwa kita harus
bangga menjadi anak Indonesia. Karena Indonesia memiliki keindahan yang luar
biasa. Kita juga harus senantiasa menjaga dan melestarikannya supaya tidak
diambil oleh negara lain. Kita selalu senantiasa mendoakan proyek – proyek
besar di kota yang bertujuan untuk memperindah suasana kota dan mencegah adanya
lingkungan yang kumuh. Supaya banyak pelancong dari dalam negeri maupun luar
negeri dapat mengunjungi tempat – tempat liburan yang berada di ibu kota ini.
Sehingga pendapatan devisa negara dapat bertambah. Dan indonesia akan menjadi negara
yang indah, bersih, nyaman, dan tenteram.
KRITIK
DAN SARAN
Saya mengakui bahwa laporan karya
yang saya buat memang tidak begitu memuaskan dan masih banyak yang menggunakan
kalimat sederhana. Maka dari itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran bagi
yang mebaca laporan saya ini. Kritik dan saran kalian sangat membantu bagi saya
untuk meningkatkan mutu dan kualitas serta tata cara menulis sebuah laporan
yang baik
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)





.jpg)