Rabu, 07 Januari 2015

LAPORAN PERJALANAN STUDY TOUR JAKARTA

Gua mau share nih laporan perjalanan gua pas ke Jakarta. langsung aja nih

BAB I
PERJALANAN MENUJU IBU KOTA
A.    Pemberangkatan

Pada hari Rabu siang tepatnya pukul 13.50 WIB kami rombongan dari SMP N 1 Banyumas berangkat ke lokasi tujuan yaitu kota Jakarta. Kebetulan saya menempati bus yang pertama jadi berangkatnya yang pertama. Sebelum berangkat tentu saja kita berdoa bersama – sama yang dipimpin olih Afandi dan Asqilla. Setelah selesai berdoa kita semua melanjutkan perjalanan yang sangat menyenangkan. Perjalanan kita itu melewati jalur selatan. Saat di dalam bus kami meminta untuk di putarkan musik dan kernet bus pun melayani permintaan kami dengan baik. Bella pun memberinya flashdisk dan langsung saja diputar musiknya. Tapi sangat disayangkan sekali lagu – lagu yang ada di flashdisk Bella hanya musik musik Korea. Kebanyakan anak – anak yang ada di bus 1 itu rata rata tidak suka dengan lagu korea. Dan teman teman pun meminta untuk mengganti flashdisknya.  Akhirnya ada juga flashdisk yang isinya lagu lagu bagus dan disukai banyak kalangan. Lama kelamaan hanya memutar musik tentu saja membosankan dan Asqilla pun mengajak untuk mengikuti dan menyanyi bersama sesuai dengan musik yang kami putar.  Sehubungan sekarang bertepatan dengan musim penghujan, perjalanan kita pun dihiasi dengan indahnya gemricik air hujan yang cukup deras. Kepala saya pada saat itu sudah terasa pusing dan perut agak mual, untung saja tidak sampai muntah.

Supir bus berhenti di salah satu pombensin wilayah Lumbir untuk sekedar istirahat sebentar dan melaksanakan sholat ashar. Saat itu saya pun langsung turun dari bus dan menuju langsung ke WC area pombensin. Saya pun langsung saja masuk ke WC, saat saya membuka pintunya, saya terkejut dan langsung saya tutup pintunya lagi. Ternyata di kloset wc itu terdapat kotoran manusia, otomatis saya langsung keluar dan menutup pintunya. Sayapun mencari wc yang bersih dan akhirnya ada juga. Setelah saya buang air kecil, saya langsung menuju ke mushola di area pombensin tersebut dan mengambil air wudlu. Tempat wudlu di sini hanya ada 4 kran dan bagian pinggir atapnya tidak ada jadi mau tidak mau saya wudlu sambil hujan hujanan, memang pada saat itu hujannya masih turun dengan deras. Saya langsung melanjutkan untuk melaksanakan sholat asharnya. Setelah semua siswa selesai melakukan sholat dan sudah merasa cukup untuk istirahat kami semua pun melanjutkan perjalanan kita. Akibat dari supir bus yang kurang tepat memakirkan busnya jadi bus 1 sekarang menepati urutan yang terakhir. Jalan didaerah Lumbir itu sangat rawan kecelakaan, kondisi jalannya berkelok – kelok namun masih agak bagus jalannya. Pada saat itu perut yang tadinya masih biasa biasa saja, sekarang tiba tiba langsung mual kembali akibat jalan yang sangat menakjubkan ini. Untuk mengurangi rasa mual dan pusing, saya berinisiatif untuk tidur sejenak. Namun apa daya, di dalam bis saya masih tetap saja tidak bisa tidur akibat tingkah laku Anam. Anam ini anaknya iseng sekali, kalau saya sedang duduk tiba – tiba Anam menduduki saya, seolah olah saya itu tempat duduk. Tidak hanya itu saja, yang membuat saya tidak nyaman itu bau badan Anam yang sangat menyengat. Hal itu membuat saya dan teman – teman merasa sangat tidak nyaman dengan keberadaan anak ini. Setelah melewati indahnya jalan Lumbir, hujan sudah agak reda. Namun kondisi jalan semakin berbahaya karena jalan raya terdapat air yang dapat menyebabkan kecelakaan. Alhamdulillah semua itu tidak terjadi.

 Perjalanan kali ini sudah agak membosankan, anak- anak di dalam bus juga sudah merasa kelelahan. Meskipun rata – rata sudah merasa kelelahan, namun Anam tetap mondar mandir jalan ke depan dan ke belakang sembari menyalakan musik dengan volume yang agak keras, mungkin Anam berniat ingin menghibur teman – teman yang mulai kelelahan. Tapi itu semua menurut saya sia – sia, karena teman – teman sudah terlihat lelah dan ngantuk. Matahari mulai tenggelam di ufuk barat menandakan hari pun sudah menjelang malam. Musik di dalam bus masih terdengar jelas kerasnya, sehubungan sudah masuk jam maghrib, kernet bus memerintah Anam untuk mematikan terlebih dahulu pemutar musiknya. Alangkah indahnya suara adzan yang dikumandangkan oleh salah satu masjid yang berada di salah satu pinggir jalan, namun kami tidak segera sholat maghrib karena perjalanan kita masih jauh dan para panitia berniat untuk makan malam di Pananjung dan sekaligus melaksanakan sholat maghrib dn sholat isya secara berjamaah. Tapi sayangnya lokasi makan malamnya masih jauh dan kami pun harus menunggu menunggu dan menunggu lagi. Disepanjang perjalanan saya merasa bosan sekali, namun rasa bosan itu sedikit demi sedikit hilang karena tingkah Anam. Anam kembali menghibur kita semua dengan gaya khasnya. Saya juga seringkali meledek anak perempuan yang berada disebelah kiri saya. Meledek teman – teman itu sudah sering saya lakukan, namun saya meledeknya juga tidak terlalu over karena dapat mengganggu teman – teman yang lainnya.

B.     Makan Malam Di Rumah Makan Pananjung, Jawa Barat

 Setelah sekian lama menunggu akhirnya kita sampai juga di sebuah rumah makan Pananjung yang terletak di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Di rumah makan ini kami dituntun masuk dan beranjak naik ke lantai dua untuk menikmati hidangan makan malam kami. Tidak disangka dan tidak diduga ternyata kami harus mengantri terlebih dahulu, dan saya pun mengantri dengan tertib. Menurut saya rumah makan ini tidak terlalu bagus dan tidak terlalu mewah, rumah makan ini kondisinya masih bagus namun ruangannya agak gelap karena lampunya tidak dinayalakan semua. Saya pun kebagiaan jatah mengambil makan malamnya. Menu makan malam yang diseddiakan di sini tidak terlalu nikmat, mau tidak mau saya harus memakannya karena perut saya sudah mulai keroncongan dari tadi. Kesialan pun menghampiri diriku, saya lupa mengambil air putih untuk minum. Ya akhirnya saya menikmati makan malamnya terlebih dahulu walau terpaksa tanpa air minum. Setelah saya selesai menikmati hidangan makan malam, saya berusaha untuk mendapatkan air minum dan alhamdulillah saya mendapatkannya juga. Walaupun air minumnya berupa sebuah air teh panas dan pahit yang sama sekali tidak nikmat untuk diminum. Untung saja saya mendapat antrian awal dan tentu saja saya cepat selesainya. Setelah selesai menikmati hidangan makan malam, saya langsung turun ke lantai dasar untuk buang air kecil dan melakukan sholat maghrib sekaligus sholat ashar. Namun tidak disangka sangka di dalam kamar mandi rumah makan ini itu antrinya panjang sekali, dan saya berusaha untuk menunggunya. Setelah sekian lama menunggu, saya langsung segera memasuki salah satu bilik kkamar mandi untuk buang air kecil yang sudah tak tertahankan dari tadi.
Akhirnya saya berhasil untuk buang air kecil dan perasaan saya sekarang sangat lega. Mushola yang terdapat dirumah makan ini ukurannya sangat sempit sekali dan antrinya juga banyak sehingga saya memutuskan untuk keluar dan menunggunya diluar. Suasana di liar rumah makan Pananjung ini sebenarnya sangat indah, namun entah kenapa tempat untuk para siswa makan malam seperti di tempat – tempat biasa, sdangkat tempat makan untuk para guru – guru jauh lebih bagus dan terihat elit daripada tempat makan  untuk siswa – siswa. Di rumah makan Pananjung ini kita agak lama karena kita harus menjadwal terlebih dahulu supaya rombongan tepat waktu untuk datang di penginapan Wiladatika. Saat di rumah makan Pananjung, saya berkeliling – keliling untuk menikmati udara luar dan menikmati indahnya jalan Tasikmalaya. Seringkali saya memasuki bus lainnya untuk meminta makanan dan sekedar untuk menghilangkan rasa yang membosankan. Suhu di dalam bus maupun di luar bus mulai naik. Saya pun harus memakai jaket tebal untuk menghangatkan tubuh saya. Jaket hanya menghangatkan bagian tubuh atas saya saja, jadi saya memanggil kernet bus untuk untuk membukakan bagasi bus.  Setelah bagasi bus dibuka oleh kernet bus, saya langsung mengabil sarung yang saya letakan di tas berisi dengan baju – baju ganti saya. Menggunakan jaket tebal dan sebuah sarung sudah cukup untuk menghangatkan tubuh saya.

C.     Perjalanan Menuju Penginapan Wiladatika, Cibubur

 Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya para panitia menghimbau untuk segera naik ke dalam bis karena kita semua akan melanjutkan perjalanan menuju penginapan. Lagi – lagi saya harus mengalami sebuh perasaan yang sangat menyebalkan sekali yaitu rasa bosan. Jalan yang dilalui menuju penginapan lumayan terjal dan curam. Jaraknya juga lumayan jauh dari rumah makan Pananjung membutuhkan waktu sekitar 4 jam lebih. Sekarang yang saya takutkan adalah mabuk dan muntah. Setelah perut terisi makan malam tadi, saya lumayan takut dan khawatir karena saya ini tipe anak yang mudah mabuk dan muntah. Dari sebelum berangkat, saya juga tidak menyempatkan diri untuk meminum obat anti mabuk. Mau bagaimana lagi, saya harus kuat dan tetap semangat supaya saya tidak mual. Saya sangat bersyukur sekali, karena sepanjang jalan saya agak tertidur sebentar. Walaupun saya tertidur sebentar, rasa pusing, mual, mabuk langsung hilang seketika. Kalau tidak salah,  saat itu waktu menunjukan pukul 22.00 WIB. Saat pukul sepuluh malam saya menikmati jalan yang indah. Jalan di daerah Jawa Barat cukup lumayan bagus dengan hiasan pondasi yang menarik di setiap pinggir jalan. Pondasi yan berada dipinggir jalan ini berfungsi untuk menghindari bencana longsor. Jalanan di sini memang dihiasi oleh pohon yang menjulang tinggi serta perbukitan yang sangat rawan sekali teerjadi longsor apabila diterjang hujan yang deras sekali. Maka dari itu pembangunan pondasi disepanjaang jalan ini sangat bermanfaat. Selain untuk menghindari terjadinya tanah longsor, manfaat lain juga dapat digunakan untuk memperindah jalan – jalan kota Tasikmalaya.

 Tidak lama kemudian setelah saya bangun dari tidur nyenyak, daerah disini kembali diguyur oleh derasnya hujan. Saya tidak tahu pasti dimana sekarang saya berada karena pingguran jalan tertutup oleh kabut yang lumayan tebal dan agak sedikit menghalangi penglihatan saya. Saat ini musik kembali di putar oleh kernet bus, namun semua siwa sudah tertidur lelap dan hanya beberapa saja yang masih terbangun. Ketika saya sedang duduk santai menikmati indahnya jalan dan indahnya alunan musik, tiba- tiba saya mendengarkan sebuah dengkuran yang lumayan keras. Kemudian saya selidiki dan mencari tahu dimana sumber dengkuran itu berasal. Tidak lama kemudian saya menemukan sumber dimana dengkuran itu berasal. Ternyata siswa kelas IX A sebut, saja namanya Aldo seorang anak keturunan Cina. Aldo ini saya perhatikan dari awal keberangkatan menuju Jakarta sampai sekarang itu kebanyakan makan – makan terus. Dan sekarang saya lihat dengan agak kagum, anak ini tidurnya sangat lelap diiringi dengan dengkuran yang maha dahsyat. Setiaap sekali dengkuran Aldo, semua anak serentak tertawa krena dengkurannya. Sontak semua teman – teman tidak bia tidur, salah satu akibatnya ya itu dengkurannya Aldo. Waktu sudah semakin malam, mata saya sudah mulai lelah dan ingin tertidur kembali. Namun ini semua sia – sia. Saya berusaha sekuat mungkin untuk tidur tetapi tidak bisa juga. Entah kenapa dan entah mengapa, entah posisi yang kurang enak atau sebab – sebab yang lainnya. Saya terpaksa untuk tidak tidur dan memilih untuk menikmati perjalanan yang sangat – sangat membosankan. Setelah saya menengok ke arah jendela bus, ternyata sudah sampai di salah satu kota di Jawa Barat, tetapi saya di tidak tahu dimana sekarang saya berada. Itu semua tidak penting lah, yang penting kita itu harus senantiasa berdoa dimanapun dan kapanpun kita berada. Jalanan di kota ini cukup ramai walaupun pada malam hari. Sebelum beberapa lama saya menikmati jalan malam di salah satu kota ini, bus mengarah ke salah satu tol yang bernama Tol Cileunyi. Tol Cileunyi ini menghubungkan antara provinsi Jawa Barat dengan provinsi DKI Jakarta. Baru pertama kali saya memasuki jalan tol ini, pemandangan jalan tol pada malam hari sangat indah dan menakjubkan, apalagi jika diihat pada siang hari jauh lebih jelas dan tentu saja indah. Sebelum beberapa lama dari gerbang tol, saya disambut dengan jalan yang super bagus dan jelas. Disepanjang jalan tol ini terdapat plang – plang peringatan yang bertujuan untuk menghindari kecelakaan yang terjadi. Kebanyakan kecelakaan yang terjadi di jalan tol itu sangat fatal, sehingga supir bus harus ekstra hati hati supaya tidak ada hal – hal yang tidak diinginkan. Kata orang – orang kecelakaan yang terjadi di jalan tol itu rata – rata memakan korban jiwaa banyak, hanya sedikit kecelakaan saja yang memakan korban sedikit. Setelah saya perhatikan, banyak sekali pengguna mobil sedan yang seenaknya menggunakan bahu jalan, padahal di sepanjang jalan sudah terpampang jelas supaya tidak menggunakan bahu jalan keculi dalam keadaan darurat seperti mengganti ban yang bocor atau pecah dan yang lainnya. Seakan – akan peraturan yang dibuat oleh pemerintah itu hanya untuk hiasan saja, tidak dilaksanakan oleh para pengguna jalan tol. Kendaraan yang melewati jalan tol ini kecepatannya luar biasa cepatnya. Bus yang saya tumpangi ini juga tidak kalah cepatnya dengan kendaraan yang lainnya. Hari pun sudah semakin malam saja, namun saya juga tidak bisa tertidur. Sekarang saya dengan tiga teman saya yang tidak bisa tidur berinisiatif untuk menjadi seperti pembawa acara yang ada di pertandingan sepak bola. Namun kita tidak berada didalam pertandingan sepak bola melainkan menjadi pembawa acara pertandingan balapan yang ada di tol ini. Meskipun bus 1 mendapat urutan yang paling terakhir, namun daya salip menyalipnya sangat kuat, sehingga di sepanjang jalan tol bus satu dengan bus lainnya saling salip menyalip. Meskipun su[ir bus juga seringkali melanggar peraturan yang ada dijalan tol seperti menyalip kendaraan dari lajur sebelah kiri. Padahal tentu saja para kendaraan tidak boleh menyalip lewat jalur kiri karena sangatlah membahayakan. Tetapi malam itu kondisi jalan tol masih tergolong sepi jadi tidak ada salahnya untuk menyalip lewat jalur kiri. Setelah lumayan lama berbicara tak jelas, saya melihat di depaan jalan terdapat tulisan Jakarta. Berarti sekarang kita sudah sampai di Jakarta, walaupun masih agak jauh dari penginapan wiladatikanya. Lampu berkelap kelip sepanjang jalan diikuti dengan banyaknya plang yang berisi peraturan berkendara di jalan tol. Saat saya melihat banyaknya plang – plang peraturan itu saya aagak kagum. Begitu banyaknya di pasang disepanjang jalan tol, namun para pengguna jalan tol tidaak memanfaatkan dan malah cuek dengan semua peraturan yang ada. Bus kami sudah beberapa kali melewati gerbang – gerbang tol lainnya, dan sekarang saya tidak tahu pasti jalan tol apa yang sedang saya lewati.

Alhamdulillah saat ini saya sudah agak mulai ngantuk dan akhirnya saya tertidur meskipun tidurnya tidak terlalu lelap. Dalam tidur, saya membayangkan betapa indahnya kota Jakarta serta asiknya berlibur di ibu kota ini. Tiba – tiba saya terbangun dengan sendirinya, ternyata yang membuat saya bangun itu hanyalah guncangan kecil jalan tol yang agak rusak sehingga saya terbangun olehnya. Saya berfikir perjalanan ini terlihat sangat lama dan tidak juga sampai – sampai di penginapan wiladatika. Saya pun melihat ke arah luar lewat jendela bus dan melihat banyaknya gedung – gedung yang berdiri. Di Jakarta ini memang sangat banyak gedung yang berdiri baik itu sebuah perusahaan, hotel, apartemen, dan lain sebagainya. Kota Jakarta ini memang sangat indah jika dilihat dari malam hari. Setelah saya perhatikan kembali jalan tol ini menuju ke gerbang tol berikutnya. Perasaan saya sudah mulai kurang enak soalnya saya sudah sangaat ingin buang air kecil. Mau bagaimana lagi saya harus menahannya karena kata panitia study tour, penginapan wiladatika sudah hampir dekat. Saya agak sedikit senang sekali setelah mendengar kabar itu. Saya berfikiran setelah saya smpai di penginapan wiladatika saya akan tidur sepuasnya dan buang air kecil tanpa ada gangguan sedikitpun. Kata panitia memang benar, tidak lama setelah panitia memberi kabar sudah dekat dengan penginapan wiladatika, akhirnya kita sampai juga di penginapan wiladatika ini. Namn supir bus ini harus memarkir busnya terlebih dahulu supaya terlihat rapi dan tidak berantakan. Setelah bus diparkir, sayapun langsung turun dari bis dan menuju kamar yang sudah ditentukan.

BAB II
 TRANSIT DI ASRAMA WILADATIKA






A.    Sampai di Penginapan Wiladatika Cibubur

Setelah menikmati perjalanan yang menurut saya sangat jauh, akhirnya kami rombongan dari SMP N 1 Banyumas sampai di tempat penginapan Wiladatika yang terdapat di daerah Cibubur. Perasaan yng saya rasakan sekarang adalah senang dan ingin segera istirahat karena saya sudah merasa lelah dengan perjalanan yang jauh. Saya memasuki kamar dan meletakan barang – barang bawaan dan pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Setelah buang air kecil, perut saya merasa lapar dan saya pun mengambil makanan yang saya bawa. Namun makanan saya tidak terlalu mengenyangkan shingga saya meminta makanannya Aji. Beberapa roti pun saya telan dengan lahapnya. Saya pun merasa haus dan segera mengambil air minum yang saya bawa. Memakan makanan kecil dan roti sudah membuat saya sedikit kenyang dan saya pun lansung segera beranjak ke tempat tidur untuk tidur. Dari awal saya masuk ke penginapan ini saya berfikir penginapan ini sudah berumur tua dan bangunannya pun tidak terlalu mewah namun bersih. Yang saya takutkan, kondisi kamar dan ruangan yang ada di tempat ini bernuansa horor sekali. Saya pun seringkali berfikiran yang tidak – tidak. Saya hanya berdoa supaya Allah tetap melindungi di setiap langkah saya. Anak remaja memang tidak luput dengan melihat acara yang menarik televisi. Saah satu anak di disini ada yang menyalakan televisi sehingga menambah suasana yang tadinya sepi sekkarang sudah agak ramai.ada yang bermain gitar di luar penginapan dan ada juga yang jalan – jalan di sekitar penginapan hanya untuk melihat lihat suasana pemadangan yang ada disini. Waktu pun sudah semakin larut malam dan mata saya sudah sangat ngantuk sekali. Saya beruntung sekali karena anak – anak ang sekamar dengan saya itu rata – rata anak yang baik dan tidak suka membuat onar. Kami menempati ruang 1 di penginapan wisma melati. Saya membayangkan sejenak ruangan ini, entah mengapa saya selalu menatap atap kamar ini. Dan saya pun tidak memikirkannya dan langsung saja menarik selimut untuk segera tidur. Setelah semua sudah menempati tempat tidur masing – masing, kami pun semua berdoa menurut agama dan kepercayaan masing – masing dan akhirnya kami tertidur dengan sendirinya. Tiba – tiba saya terkaget dengan adanya suara di balik jendela kamar ini. Setelah saya perhatikan dengan baik – baik ternyata itu hanyalah suara icak yang jatuh dari atap dan ssaya pun segera melanjutkan tidur saya. Di luar penginapan ini banyak anak – anak yang tidak tidur, mereka malah jalan – jalan dan memainkan tidur. Menurut saya, saya lebih baik tidur karena besok saya akan membutuhkan tenaga yang lumayan banyak. Saya mendengarkan penjelasan dari Pak Hari guru IPS saya. Apabila sudah sampai di penginapan kita harus langsung tidur supaya esok harinya kita tidak menyesal. Dalam tidur, saya tidak memimpikan apa – apa dan saya hanya tidur satu jam. Saya lebih beruntung karena dapat tidur daripada anak – anak yang lainnya.

B.     Bangun Tidur dan Persiapan Mandi

 Saya terbangun dari tidur saya karena mendengar suara alarm yang sangat keras dan banyak, otomatis saya langsung segera membuka mata saya. Setelah saya bangun dari tidur yang indah, saya pun segera keluar dari kamar dan pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka dan buang air kecil. Kami semua segera mengambil air wudlu untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah di dalam penginapan, ruang tamu menjadi pilihan yang tepat untuk dijadikan tempat untuk sholat karena ruangannya luas dan bersih. Setelah kami semua melaksanakan sholat subuh, teman – teman segera berebutan untuk mandi, saya harus mengantri terlebih dahulu karena banyak sekali anak – anak yang mau mandi. Akhirnya saya mendapat giliran untuk mandi dan sayapun harus bergerak cepat karena diluar masih banyak sekali teman – teman yang mengantri. Suasana mandi di penginapan sini sangat berbeda jauh dengan saat saya mandi di rumah. Jika mandi dirumah saya dapat menghabiskan waktu seberapa lama pun dikamar mandi, sedangkan juka mandi di penginapan seperti yang sekarang ini saya merasa seperti di kejar – kejar anjing yang buas. Saya merasa mandinya itu ridak nikmat dan tidak bersih karena saya harus segera cepat – cepat. Padahal, air yang disediakan untuk mandi itu berupa air hangat yang sangat enak jika mandinya itu lama.. Setelah membasuh badan dengan sabun dan air saya segera langsung mengambil handuk dan segera mengelap seluruh badan saya dan segera keluar dari kamar mandi. Memang dari tadi kamar mandinya terus menerus digedor gedor dan saya pun otomatis tidak sama sekali merasa nyaman. Setelah saya keluar dari kamar mandi, saya langsung segera masuk ke dalam kamar untuk memakai baju dan bersiap siap untuk kegiatan berikutnya. Memang saya akui, jika di dalam kamar itu saya sangat lama untuk menyiapkan semuanya. Setelah agak lama didalam kamar, saya segera keluar dan mengajak teman – teman untuk keluar dan jalan – jalan sejenak untuk menghirup segarnya udara pagi di penginapan wiladatika ini. Suasana langit pun mulai terang. Saya dan anak – anak pramuka kumpul bersama untuk sekedar foto – foto di depan tugu patung wiladatika ini. Sehubungan kami semua anak pramuka, kami ingin sekali mengabadikan momen yang sangat jarang sekali terjadi yaitu foto di sini. Kami pun harus memanggil teman – teman yang lainnya terlebih dahulu supaya saat berfoto nanti suasananya agak ramai dan tidak terlalu sepi. Yang paling saya tidak sukai adalah saya harus menggendong dua tas sekaligus dan tasnya juga lumayan berat. Setelah kami berputar – putar untuk mencari Dian karena Dian yang mempunyai kamera. Setelah Dian di temukan, kami semua langsung segera jalan ke arah tugu wiladatika dan menuju kolam yang terdapat di gedung utama tempat ini.

C.     Berfoto Ria di Tugu Wiladatika




 Setelah semua anak – anak berkumpul, tidak lama kemudian kami langsung mengambil foto sebanyak mungkin. Salah satu dari kami ada yang membawa spanduk sekolah kami dan juga ada yang membawa bendera pandu dunia dan bendera pramuka. Saat kami mengambil foto kami tidak sadar ternyata hari pun sudah semakin pagi ddan kami masih asik untuk berfoto bersama. Beberapa kali kami berganti gaya foto dan juga beberapa kali kami pindah dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya. Kami sangat senang karena dapat mengambil foto yang sangat banyak di penginapan wiladatika ini. Setelah kami sudah merasa bosan, kami segera menaruh tas di dalam bagasi masing – masing. Setelah beberapa menit kemudian, anak – anak dipanggil oleh panitia untuk menikmati makan pagi yang dilaksanakan sekitar jam setengah tujuh. Kami semua pun harus antri dan memasuki ruangan yang sudah di tentukan oleh panitia. Menu sarapannya pun lumayan enak yaitu sebuaah nasi goreng dengan tempe kering daan sedikit telur. Memang saat itu saya sudah merasa lapar sekali dan saya agak cepat menghabiskan makanannya. Setelah saya selesai makan saya langsung segera keluar dari tempat ini dan ingin jalan – jalan sebentar. Di luar masih banyak anak – anak yang mengantri untuk mendapatkan makan pagi. Untungnya saya sudah mendapatkan makan paginya. Saya berkeliling keliling disekitr penginapan ini. Ternyata pemandangaan yang ada disini itu sungguh indah dan menyegarkan. Tentu saja sangat lekat dengan nuansa kepramukaannya. Waktu pun sudah semakin berjalan dan semua teman – teman sudah selesai makan paginya, tinggal menunggu para guru dan supir bus untuk makan siang. Kami pun harus sabar menungu mereka makan pagi. Saya pun merasa bosan dari tadi hanya menunggu saja. Saya pun berinisiatif untuk keluar dari bus dan melihat para bapak – bapak yang sedang lari pagi di sekitar lapangan penginapan ini. Dan saya pun seringkali menyanyi untuk menghilangkan rasa bosan. Tak lama kemudian akhirnya para panitia dan para supir pun sudah selesai untuk makan paginya. Kami semua semua juga disuruh untuk segera memassuki bus karena sebentar lagi bus akan berangkat ke tempat tujuan berikutnya. Saya merasa bangga karena saya bisa mengunjungu tempat dimana Pramuka itu di lahirkan saya juga sangat senang sekaali dapat mengaambil foto – foto disini. Akhirnya rombongan kami pun meninggalkan dan segera keluar dari lokasi penginapan wiladatika tercinta ini. Rombongan kami pun segera melanjutkan ke tempat berikutnya yaitu ke TMII atau Taman Mini Indonesia Indah lebih tepatnya kami mengunjungi ke tempat PP IPTEK nya saja.

BAB III
 PP IPTEK TAMAN MINI INDONESIA INDAH



A.    Perjalanan Menuju PP IPTEK TMII

Perjalanan menuju PP IPTEK TMII kira – kira membutuhkan waktu sekitar dua jam lebih.  PP IPTEK adalah singakatan dari Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang letaknya berada di Taman Mini Indonesia Indah ( TMII ). Waktu dua jam itu saya gunakan untuk tidur di dalam bus. Tadi malam, saya hanya tidur sebentar jadi esoknya saya merasa ngantuk dan akhirnya tertidur di bus walau tidurnya hanya sebentar saja. Kota Jakarta adalah salah satu kota yang terkenal dengan kemacetannya. Saat itu juga bus kami juga terjebak dalam kemacetan yang lumayan panjang, untung saja pada saat itu saya masih tertidur pulas. Tidak lama kemudian saya terbangun karena bus tiba – tiba rem mendadak yang membuat saya jatuh kedepan dan otomatis saya langsung terbangun. Padahal tidur saya ini sangat lelap dan saya pun harus bangun karena perjalanan ke taman mini indonesia indah sudah mau sampai. Meskipun saya sudah bangun dari tidur indah, pemandaangan yang ada didepan saya itu tetaplah kemacetan dan kemacetan. Saya berfikir apakah orang – orang di Jakarta ini tidak bosan setiap hari dan setiap saat jalanannya mengalami kemacetan. Tak lama kemudian bus kami pun berbelok arah ke kiri yang menuju ke Taman Mini Indonesia Indah. Untung saja jalan yang menuju ke Taman Mini Indonesia Indah tidak ada kemacetan sama sekali hanya sedikit berhenti karena ada lampu lalu intas yang menghadang. Meskipun perjalanan hanya memakan waktu sebentar saja, sya sudah merasa bosan di dalam bus, saya juga merasa lelah dan ingin segera turun dari bus ini. Saya ini memang tipe anak yang tidak suka mengendarai kendaraan bus. Entah mengapa dan kenapa setiap kali saya menaiki bus saya langsung pusing dan seringkali mabuk serta muntah. Untung saja sampai sekarang ini saya tidak mengalami mabuk ataupun muntah. Alhamdulillah kita segera sampai di Taman Mini Indonesia Indah. Rombongan dari bus kami pun beranjak ke pintu masuk. Bus saya di datangi oleh seorang  petugas Taman Mini Indonesia Indah dan menanyakan berapa jumlah penumpang dan pendamping yang ada didalam bus, kami pun serentak menjawabnya dan akhirnya petugas itupun turun dengan sendirinya. Tak beberapa lama kemudian bus kami segera masuk untuk  memasuki area Taman Mini Indonesia Indah dan mencari lahan parkir untuk memarkir bus. Saya heran kenapa setiap kali memasuki area disini, jalan yang menuju ke tempat parkir itu lumayan jauh. Ha; itu pun juga terjadi di Taman Mini Indonesia Indah ini. Bus kami berputar – putar untuk mencari tempat parkir. Ketika bus ini sedang berjalan untuk mencari lahan parkir, saya pun melihat pemandangan yang indh dari samping kanan saya. Disini tersedia banyak sekaali keindahan alam Indonesia. Saya juga melihat beberapa barisan rumah – rumah adat Indonesia yang terpampang jelas di hadapan saya. Setelah beberapa lama kemudian akhirnya bus kami pun sampai di area parkir khusus bus. Saya pun segera turun karena sudah sangat bosan didalam bus. Para siswa tidak diperbolehkan membawa tas dan saya pun tidak jadi membawa tas dan segera mengembalikannya ke dalam bus. Semua siswa berbaris menuruti apa yang dikatakan oleh panitia supaya tidak ada hal – hal yang tidak diinginkan. Kami semua masuk ke dalam pintu masuk. Sebelum saya masuk, terlebih dahulu saya melihat berbagai benda – benda yang sangat unik.
 Di depan pintu masuk saya melihat sebuah roda pesawat terbang yang sangat besar. Setelah saya membaca penjelasan yang tertera di roda ini ternyata roda pesawat ini merupakan salah satu roda pesawat dari maskapai penerbangan Indonesia yaitu Garuda Indonesia. Roda ini sangat tebal, keras dan tentu saja sangatlah berat. Dalam penjelasan saya juga membaca berat dari roda pesawat terbang ini tapi sayang saya lupa. Selain roda pesawat terbang saya juga melihat robot transformer yang namanya kalau tidak salah adalah Bumble Bee. Robot ini menurut saya tidak terlalu menarik dan warna robot ini adalah kuning. Setelah rombongan kami sudah terkumpul semua kami sudah dipandu oleh seorang sosok wanita yang cantik dan berjlibab. Kami semua di suruh untuk duduk dan dijelaskan semua peraturan – peraturan yang  harus diperhatikan. Pemandu wanita menjelaskan peraturan dengan lembut, santai, dan detail. Tak lama kemudian kami disuruh untuk berdiri dan di atur satu persatu untuk memasuki PP IPTEK dengan tertib. Setelah saya masuk ke dalam saya agak sedikit kagum dan sedikit merasa bosan. Saya mengikuti teman – teman untuk mencoba semua teknologi – teknologi yang disuguhkan di tempat ini.

B.     Mencoba dan Mengamati Alat – Alat di PP IPTEK TMII

 Di sini sangat banyak peralatan – peralatan yang mengandung unsur teknologi yang canggih. Sayapun mendekaaat ke salah satu peralatan disini dan mencobanya. Yang pertama kali saya coba adalah sebuah alat yng dapat merekam suara manusia. Dan saya pun segera beralih ke alat yang lain. Entah mengapa saya sangat merasa bosan karena alat – alat disini sudah sangat seperti biasa sekali tidak ada hal – hal yang baru atau bernuansa lain. Saya akui bangunan ini sangat unik sekali, dari luar terlihat seperti sebuah piramida yang sangat besar. Namun setelah saya memasukinya ternyata bagian dalam tempat ini terdiri dari tiga lantai yang masing - ,masing laintainya berisi berbagai macam alat – alat yang berkaitan dengan teknologi. Saat ini saya berjalan sendirian karena sya ditinggal oleh teman – teman. Saya melihat sebuah alat musik yang nampak seperti alat petik. Petikanlah yang menghasilkan bunyi dari alat musik itu, namun yang anehnya di alat musik ini tidak ada satupun senar yang terpasang. Dan saya hanya mengarahkan tangan saya ke alat musik ini dan tiba – tiba menghasilkan bunyi. Saya pun terkaget karenanya. Setelah saya mencoba alat musik ini saya pun menemui Abid untuk menemani saya supaya saya tidak berjalan sendirian.Setelah itu, saya beranjak ke lantai berikutnya dan saya melihat sebuah tiruan dinasaurus yang sangat mirip wujudnya. Mulai dari kulit, gerak tubuhnya, serta bentuknya saangat – sangatlah mirip dengan aslinya. Kalau tidak salah jumlah dinasaurus disini berjumlah tiga buah. Kemudian saya berjalan ke tangga yang terletak disampimg tiruan dinasurus dan saya segera menaikinya untuk melihat alat – alat yang berikutnya.
Setelah saya sampai diatas, saya disamabut dengan alat alat yang sudah rusak dan otomatis tidak bisa saya coba. Di lantai ini kebanyakan peralatannya sudah rusak dan sudah harus diganti dengan yang lainnya. Saya dan Abid hanya berjalan melihat – lihat suasana sekitar. Tiba – tiba saya ingin buang air kecil dan segera mencari toilet di area sini. Setelah berputar putar saya pun menemukan toiletnya. Akhirnya saya pun lega karena sudah menuruti panggilan alam. Saya melihat – lihat toilet disini dan saya tidak sengaja membuka pintu kecil yang jika dilihat dari jauh seperti jendela. Jendela kecil ini terletak di salah satu bilik toilet. Saya penasaran dan segera membukanya, saya langsung terkaget. Ternyata isi dari jendela kecil ini adalah sebuah kontruksi bangunan yang tidak kita sadari dibalik bentuk bangunan yang inah ini, ternyata ada sebuah keburukannya juga, isinya yaitu dinding – dinding yang curam dan tidak berbentuk. Suasana di balik sini juga gelap dan dalam. Saya langsung segera menutupnya karena saya agak takut. Saat di toilet saya menunggu Abid yang sedang buang air besar, saya harus menunggu lama. Dia berteriak kecil karena celananya jatuh ke dalam kloset toilet dan akhirnya tidak jadi buang air besar dan  segera keluar untuk membilas sedikit bagian yang jatuh ke dalam  kloset. Setelah saya keluar dari toilet saya dan Abid kembali melanjutkan untuk mencoba alat – alat yang ada di sini. Saya menyesal karena di sini saya tidak bersama gerombolan Dian, dan saya pun harus rela untuk tidak mengambil foto – foto disini. Menurut saya itu tidak terlalu penting. Saya pun terus berjalan untuk mencari alat – alat yang sedang tidak dipakai oleh pengunjung lain. Semakin siang memang pengunjung disini semakin banyak dan saya pun harus bersabar untuk mengantri demi mencoba alat-alat disini. Setelah saya lelah berjalan – jalan, saya melihat tempat duduk dan saya pun duduk sejenak untuk menghilangkan rasa lelah. Saya melihat ke arah samping ada sebuah ilustrasi tentang pantulan suara yang disalurkan oleh pipa – pipa besar. Saya hendak mencobanya namun sudah didahului oleh pengunjung lain. Jadi saya terpaksa harus mencoba yang lainnya. Setelah itu, saya memasuki ruangan yang didalamnya gelap dan berisi bermacam – macam alat eksperimen yang berhubungan dengan cahaya. Saya pun segera mencobanya satu persatu.Untung saja disini tidak terlalu ramai pengunjung, jadi saya lebih berleluasa untuk mencobanya. Saya merasa bosan sehingga saya memutuskan untuk keluar dari ruangan ini dan berjalan – jalan lagi untuk melihat hal – hal yang unik lainnya. Saya melihat alat berupa mobil mainan yang berukuran kecil dan saya pun menarik mobil itu, yang terjadi adalah ketika saya menarik mobil itu, muncul suara yang nyaring yang membuat saya kaget. Ternyata di bawah mobil itu ada sebuah alat pemukul alat musik yang berupa kulintang. Saya pun bergegas untuk melihat yang lainnya. Saya memasuki arena anak kecil yang sebenarnya tidak boleh di masuki oleh saya. Ruangan ini hanya bileh dimasuki oleh anak yang usianya 8 – 12 tahun saja. Kebetulan disini kondisinya sedang sepi, saya langsung masuk saja. Saya mencoba memasuki sebuah labirin yang berukuran kecil yang didalamnya terdapat cermin – cermin yang dapat membuat kita merasa pusing. Labirin itu memang diperuntukan untuk anak kecil jadi saya dengan mudah menyelesaikan labirin itu dengan mudah dan tidak harus memikir. Di dalam ruangan ini, selain labirin itu ada juga alat musik yang dihasulkan dari pukulan dan saya pun langsung mencobanya. Di ruangan ini memang tidak sama sekali mengasyikan dan saya pun segera keluar dari sini. Saya berjalan – jalan lagi dan melihat alat – alat yang berhubungan listrik. Saya pun penasaran dan bergegas untuk mendekatinya sekaligus mencobanya. Alat yang pertama saya dekati itu sebuah bola berukuran sedang yang jika saya sentuh akan menghasilkan sebuah garis – garis yang seperti dimiliki oleh para paranormal yaitu bola pusaka. Setelah itu saya ingin mencoba alat yang dapat menimbulkan rambut kepala berdiri, tapi sayang sekali rambut saya tidak panjang. Yang boleh mencobanya hanya anak perempuan yang tidak berjilbab dan memiliki rambut panjang.
Akhirnya ada seorang anak SMA yang ingin mencobanya. Di area ini memang ada petugasnya jadi kita harus benar-benar mematuhi aturan yang ada. Petugas pun menyuruh anak perempuan ini memegang bola yang berukuran lumayan besar. Awalnya anak ini memang takut namun teman – teman yang lain memaksanya jadi akhirnya mau untuk memegangnya. Setelah beberapa memegang bola itu, sedikit demi sedikit rambut anak perempuan itu berdiri. Memang tidak berdiri semuanya, setidaknya rasa penasaranku dengan alat ini sudah terhilangkan. Saya pun segera melanjutkan untuk melihat alat yang lain. Nampak dari kejauhan saya meliha sebuah rumah buatan yang dikhususkan untuk simulasi gempa. Setelah saya perhatikan dengan baik – baik, tiba – tiba rumah itu bergoyang – goyang sendiri dengn dahsyatnya dan otomatis orang yang ada didalam rumah itu berteriak – teriak histeris ketakutan. Sebenarnya saya ingin mencobanya, tapi setelah saya melihat antrian yang lumayan panjang saya pun mengurungkan niat untuk mencobanya. Setelah itu saya beranjak ke dunia cermin. Memang di dalam sini sangat banyak cermin. Ada sebuah kotak segitiga kecil namun bisa dimasuki orang, sayapun mencobanya. Ternyata di dalam segitiga ini terdapat cermin yang sangat banyak, sebenarnya hanya ada tiga cermin saja. Akibat dari pantulan cermin yang lain, bayangan yang banyak lah yang tercipta dari pantulan cermin ini. Saya segera keluar karena jika terlalu lama di dalam sini akan menimbulkan rasa pusing. Ada sebuah cermin cekung, cembung, datar. Yang anehnya adalah ketika saya mendekati cermin ini, nampak terlihat jelas namun bayangannya berupa orang cebol yang sangat pendek dan sontak kami semua tertawa karena lucu melihatnya. Setelah sudah lumayan banyak alat – alat yang saya coba di lantai ini, saya beranjak ke lantai bawahnya untuk menemukan teman – teman yang lainnya. Setelah sampai dibawah saya melihat teman – teman seding bergerombol sedang menganttri untuk melihat film yang diputar di bioskop yang ukurannya tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. Saya penasaran untuk memasukinya namun didalam sana sudah penuh dan saya pun harus menunggu. Di depan ruang bioskop ini saya melihat sebuah sepeda yang sedang melaju di seutas kabel yang lumayan panjang. Saya pun mendekatinya untuk melihat dengan jelas. Setelah saya perhatikan baik – baik, sepeda ini sudah diamankan dengan peralatan keamanan yang terjamin keselamatannya. Sebenarnya saya ingin mencobanya, namun untuk mencobanya saya harus merogoh kocek sebesar lima ribu rupiyah. Setelah saya pikir – pikir, saya akhirnya memutuskan untuk membatatalkan niat saya. Tidak lama kemudian panitia memberitahukan kegiatan di PP IPTEK ini sudah selesai dan memerintahkan kami untuk segera menuju ke dalam bus dan melanjutkan perjalanan selanjutnya yaitu ke Gelanggang Samudra Ancol.

BAB IV
GELANGGANG SAMUDRA ANCOL





A.    Perjalanan Menuju Gelanggang Samudra Ancol

Setelah selesai mengunjungi PP IPTEK TMII rombongan kami segera menuju ke lokasi berikutnya yaitu Gelanggang Samudra Ancol. Perjalanan yang dibutuhkan kira-kira sekitar dua jam lebih. Waktu dua jam itu saya gunakan untuk tidur karena saya juga lumayan mengantuk. Saat saya berusaha untuk memejamkan mata, tiba – tiba terdengar suara dengkuran yang lumayan keras. Dan suara dengkuran itu ternyata suaranya Aldo anak kelas IX A. Tidak lama kemudian akhirnya saya tertidur juga. Dalam tidur, saya membayangkan suasana di Gelanggang Samudra Ancol yang begitu indah. Saya tertidur cukup lama karena tak ada gangguan dari teman – teman saya. Tiba – tiba saya merasakan guncangat yang membuat saya terkaget, ternyata supir bus rem mendadak karena ada sebuah mobil yang melintas didepannya. Otomatis saya pun langsung terbangun karena guncangan tersebut. Setelah saya membuka mata, ternyata saya melihat kendaraan yang berbaris dengan rapi dan berjalan dengan sangat lambat. Tidak bisa dipungkiri lagi, lagi – lagi bus kami terjebak macet yang lumayan panjang. Kebanyakan dari murid – murid maupun panitia mengeluh, takutnya nanti rombongan kami tidak sampai tepat waktu di tujuan. Bus yang saya naiki berjalan sangat pelan dan beberapa kali saya mendengarkan suara klakson yang bersautan dari berbagai arah. Saya sudah merasa sangat bosan dan gelisah dengan semua ini, padahal ini jalan tol mengapa bisa macet separah ini. Waktupun terus berjalan dan berjalan, akhirnya bus kami sampai di gerbang tol dan saya pun lega sekali karena sudah merasa terbebas dari gangguan macet yang menyebalkan itu. Nampak dari kanan dan kiri saya terlihat gedung pencakar langit yang berdiri kokoh dan seringkali memancarkan sinarnya akibat pantulan dari cahaya matahari. Saya lumayan senang karena perjalanan yang sekarang ini lumayan menyenangkan karena dihiasi dengan pemandangan yang sangat indah serta menakjubkan. Mata saya disuguhkan oleh pemandangan yang amat indah yaitu sebuah gedung bersaudara yang arahnya menghadap pesis kearah mata saya. Gedung itu sangat indah dan bentuknya yang bagus. Bus kami melewati jalan layang yang indah, namun di jalan layang ini udaranya lumayan panas dan agak sedikit bergelombang jalannya. Setelah melewati jalan layang yang indah, lagi – lagi bus kami terjebak kemacetan. Untungnya kemacetan ini tidak terlalu parah. Saya melihat di kanan jalan yang dilalui bus ini, terdapat sebuah sungai yang berwarna hitam pekat dan penuh sampah yang lumayan banyak. Beberapa saat kemudian hidung saya mencium aroma yang sangat busuk dan saya segera menutup hidung saya dengan jaket yang saya pakai. Ternyata bau busuk itu berasal dari sungai yang dilalui tadi. Memang rata – rata sungai di kota ini airnya sudah tercemar oleh limbah pabrik. Dan saya perhatikan di sepanjang sungai itu, airnya tidak bergerak sedikitpun melainkan hanya menggenang dan menghasilkan bau yang sangat menyengat. Untung saja bus kami terbebas dari kemacetan dan langsung bergerak cepat mengindari aroma yang menjijihkan tersebut. Setelah beberapa lama kemudian teman saya melihat tulisan Ancol dari kejauhan. Saya pun langsung berdiri untuk melihatnya dan ternyata benar. Saya senang sekali akhirnya sebentar lagi sampai.
Beberapa menit setelah melihat tulisan tersebut, akhirnya bus kami sampai juga di Gelanggang Samudra Ancol dan segera enuju ke area parkir. Saat ini kondisi cuaca memang sangat cerah dan lumayan panas. Bus kami pun berhenti dan kami  siap – siap untuk turun. Di area parkir sudah sangat banyak pedagang asongan yang menawarkan dagangannya antara lain yaitu payung, kacamata dan aneka topi. Setelah saya turun dari bus, saya langsung merasakan panasnya terik matahari dan saya kembali naik ke bus untuk mengambil jaket, semua anak – anak di tuntun oleh panitia untuk berjalan menuju pintu masuk Ancol ini. Dari area parkir ke pintu masuk lumayan jauh dan membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit. Namun saya tidak merassakan itu karena saya senang menikmati suasana Ancol ini. Area parkir Ancol tergolong cukup indah dan lumayan bersih. Suhu udara disini pun cukup segar karena banyak sekali pohon – pohon yang rindang meskipun kondisi siang ini cukup panas. Setelah sampai di pintu masuk, panitia membagikan selembar tiket untuk memasuki Ancol ini dan saya segera masuk karena sudah tidak  sabar lagi. Tiket yang diberikan oleh panitia adalah sebuah tiket yang terdiri dari tiket untuk masuk ke Ancol dan tiket untuk memasuki Dufan. Suasana di Ancol sekarang ini lumayan ramai oleh pengunjung baik dari rombongan para pelajar maupun keluarga yang ingin berekreasi. Saya pun segera mengikuti teman – teman yang lain supaya tidak tertinggal oleh rombongan sekolah kami. Kami semua di himbau supaya tetap bergerombol dan sesekali memisahkan diri dari rombongannya karena dapat menimbulkkan hal – hal yang tidak diinginkan.

B.     Kegiatan – Kegiatan Sewaktu di Ancol

1.      Makan Siang di Ancol

Setelah rombongan kami sudah berkumpul semua, para panitia menyuruh kami untuk mengambil jatah makan siang yang sudah di tata rapih di meja. Satu per satu dai kami mengambil makanan itu. Saat itu saya ke toilet terlebih dahulu karena saya sudah tidak tahan lagi untuk buang air kecil. Setelah saya selelsai dari toilet saya pun segera mengambil makanan yang sudah disediakan oleh panitia. Tempat duduk dan meja makan disini jumlahnya tidak terlalu banyak. Kami pun harus bergantian. Dan akhirnya saya mendapat tempat duduk juga. Saya mebuka makanan tersebut dan isinya adalah sebuah nasi dan ayam goreng yang disertai dengan sausnya juga. Kebtulan saat itu saya lumayan lapar sehingga saya dengan cepat melahap nasi dan ayam goreng tersebut. Tak lama kemudian saya selesai makan dan mengambil air minum dan segera mencuci tangan saya, karena tadi saat saya makan, saya menggunakan tangan supaya lebih mudah dan cepat.

2.      Menonton Film 4 Dimensi


Setelah makan siang, saya kembali melanjutkan kegiatan saya yaitu menonton 4D. Pada saat itu saya bersama Abid anak kelas 9 H, kami hanya berdua. Untuk menonton 4 dimensi ini kami bedua harus mengantri untuk memasuki gedung yang seperti bioskop ini. Banyak anak dari rombongan kami yang putus asa dan akhirnya keluar dari area pengantrian karena sudah tidak tahan lagi mengantri. Namun saya tetap bersabar karena sudah lama saya mengantri di sini. Beberapa kali saya dan Abid menerobos antrian yang banyak ini. Di sini saya berdesak – desakan dengan pengunjung lain. Dan pada saat saya berdesak – desakan, ada seorang ibu – ibu yang tiba tiba memarahi kami dengan lantang. Ibu – ibu tersebut terlihat sangat marah, ibu – ibu ini berkata sudah mengantri dua kali tetapi tidak juga masuk ke dalam. Dan saya sempat melihat anaknya menangis karena sudah tidak sabar lagi. Saya dan Abid tidak begitu mendengarkan ap yang ibu ini katakan, saya hanya menatap ke arah depan dan berusaha untuk menghiraukannya. Penjaga pintu masuk bioskop ini memberi tahu bahwa para pengunjung tidak boleh saling berdesakan dan tidak boleh saling drong – mendorong karena disini banyak anak – anak kecil. Penjaga ini juga berkata lima menit lagi pintu masuk akan segera di buka, dan saya pun besiap – siap untuk segera menerobos supaya saya dapat masuk ke dalam. Perjuangan saya pun berhasil.

Akhirnya saya dan Abid berhasil masuk ke dalam. Bangunan ini berarsitektur seperti bangunan mesir. Bangunan ini jika dilihat dari luar berbentuk seperti piramida dan pada dindingnya dibuat relief – relief yang menyerupai aslinya. Di dalam bangunan ini cahayanya lumayan sedikit sehingga terasa gelap. Di dalam sini juga terasa panas dan pengap. Saya terpaksa harus berbaris satu persatu karena jalannya sempit. Akhirnya saya dan Abid sampai di atas dan kami berdua diberi kacamata untuk menonton nanti. Di atas saya pun harus menunggu film yang sedang di putar selesai. Beberapa saat kemudian akhirnya pintu masuk bioskop di buka dan tentu saja para pengunjung berebutan untuk masuk ke dalam. Saya dan Abid pun segera masuk dan mencari tempat duduk yang nyaman. Setelah semua pengunjung sudah duduk, pemandu mengatakan supaya duduk dengan benar dan berkata sebentar lagi filmnya akan di putar. Saat filmnya diputar saya langsung kagum. Gambar pada layar tersebut terlihat sangat nyata seperti pada kehidupan seperti biasanya. Sungguh luar biasa. Saat beradegan menegangkan, kursi yang saya duduki juga ikut bergerak dan mebuat saya terkaget dan seringkali saya berteriak histeris. Film itu mengganbarkan seekor dinasaurus yang sangat besar dan ingin menerkam manusia. Saat dinasaurus itu mulutnya menganga lebar, kepala saya terasa ada didalam mulut dinasaurus tersebut. Saya sangat kagum dengan teknologi yang canggih ini. Dan adegan yang tidak kalah menarik adalah saat menaiki sebuat pesawat. Yang membuat saya kaget adalah ketika pesawat sedang mengudara tiba – tiba ruangan ini juga mengeluarkan hembusan angin yang kuat dan dingin. Semua penonton yang ada di bioskop ini juga berteriak kaget karena angin yang tiba – tiba datang dan berhembus dengan kencang. Saya pun melanjutkan melihat film tersebut. Beberapa saat kemudian, film ini berakhir dan para pengunjung diisyaratkan untuk keluar melewati pintu keluar yang terdapat di bawah pojok. Saya sangat senang dan kagum setelah melihat film ini. Pintu keluar bioskop ini sangat banyak dipadati oleh pedagang – pedagang yang menjajakan dagangannya disini. Saya pun hanya melihatnya saja dan tidak sama sekali menghiraukannya. Kemudian kami berdua berjalan menuju wahana yang berikutnya. Namun pada saat itu, kami berdua kebingungan karena tidak tahu jalan. Saya dan Abid terduduk sejenak untuk menghilangkan rasa lelah. Setelah itu, kami berdua berjalan – jalan untuk mencari wahana yang asyik berikutnya.


3.      Atraksi Lumba – Lumba


Setelah saya selesai melihat tayangan film tadi, saya dan Abid segera melanjutkan ke wahana selanjutnya yaitu pementasan lumba lumba. Di sini saya tidak harus mengantri karena diluar tampak sepi dan tidak terlalu banyak pengunjung. Setelah saya memasuki gedung ini ternyata didalamnya sudah nampak banyak sekali pengunjung. Persiapan yang dilakukan oleh pelatih lumna – lumbanya lumayan lama dan saya pun harus menunggunya. Beberapa kali wajah saya dan abid tersorot oleh kamera yang ditayangkan di layar besar di depan pementasan tersebbut. Saya pun acuh tak acuh dan sebenarnya saya juga mengetahuimua. Setelah sekian lama menunggu akhirnya dimulailah pementasan lumba –lumba ini. Awalnya yaitu di tayangkanlah sebuah film yang menceritakan anak – anak yang ingin sekali menjadi pelatih para lumba – lumba. Setelah tayangan itu selesai, dua orang pelatih lumba – lumba keluar dan para penonton bertepuk tangan dengan meriahnya. Pelatih lumba-lumba tersebut segera mulai beraksi dengan lumba – lumba tersebut. Para penonton bersorak gembira. Namun saya melihat satu orang pelatih itu nampak beberapa kali terpeleset dari panggung dan sontak para pengunjung pun langsung tertawa. Anehnya tidak hanya sekali saja pelatih itu terpeleset namun sering dan membuat pembawa acara lumba – lumba ini menjelaskan karena panggung lumba – lumba tersebut sangat licin. Ya memang begitulah dari dulu sampai sekarang pementasan lumba – lumba seperti itu –itu saja tidak ada yang baru. Setelah selesai saya dan Abid segera keluar dari tempat ini dan segera melanjutkan kegiatan selanjutnya.

                        Setelah selesai melihat pertunjukan lumba – lumba, saya segera keluar untuk jalan – jalan dan melihat pemandangan sekitar. Namun setelah saya berjalan beberapa langkkah saja, saya tidak melihat gerombolan dari rombongan kami. Dan saya bergegas melihat sekeliling kembali untuk memastikan bahwa mereka semua masih disini. Setelah saya lihat dengan teliti ternyata rombongan kami kebanyakan sudah kembali ke bus. Saya dan Abid berusaha untuk mencari jalan keluar, tetapi kami berdua merasa bingung. Untung saja saya melihat sebuah peta lokasi Ancol ini terpampang dengan jelas dan saya segera menghampirinya. Setelah melihat peta tersebut, saya malah terkesan lebih bingung karena dalam peta dijelaskan dengan jalan yang kecil sehingga saya tidak dapat mengerti. Perasaan takut dan gelisah pun menghampiri saya. Namun Abid mengajak untuk sekedar mencari jalan keluar dari tempat ini. Setelah berjalan – jalan agak lama, saya melihat panitia dari rombongan kami yaitu Pak Aris. Saya melihat Pak Aris sedang berdiri dan melambaikan tangan kepada kami berdua untuk segera keluar dan melanjutkan perjalanan selanjutnya. Untung saja ada Pak Aris, jadi kami berdua segera berjalan menuju pintu keluar yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat dimana saya melihat Pak Aris. Setelah berhasil keluar, kami berdua bergegas untuk menuju tempat dimana bus kami di parkirkan.

Lagi – lagi kami berdua lupa jalan yang harus dilalui. Saya dan Abid berjalan lurus ke depan. Seharusnya setelah keluar dari pintu keluar, kita harus belok kiri untuk menuju area parkir bus. Tiba – tiba saya teringat bahwa jalan yang saya ambil salah dan dengan cepat saya segera berbelok ke arah kiri untuk mengambil jalan yang benar. Setelah beberapa lama kemudian, akkhirnya kami berdua sampai di area parkir bus. Benar dugaan kami berdua, ternyata para paniti sedang menunggubeberapa muridnya yang terlambat untuk menuju ke bus. Bukan hanya saya dan Abid saja yang terlambat menuju ke bus, melainkan masih banyak beberapa murid yang masih berada di dalam kawasan Ancol tersebut. Panitia bus 1 yang bernama Pak John Mugiyono segera mengabsen para siswa yang berada di dalam bus 1. Ternyata masih ada beberapa anak yang belum sampai diantaranya Aldo, Dinda, Indah, Hana dan masih beberapa lagi. Panitia pun segera menghubungi anak – anak tersebut untuk segera kembali ke dalam bus. Bahkan saking lamanya murid di bus 1 tidak lengkap semua, bus lainnya sudah meninggalkan bus 1 karena terlalu lama. Para siswa pun mengeluh hanya karena beberapa anak saja yang belum hadir, bus lainnya meninggalkan bus 1 ini. Setelah ditunggu – tunggu, anak – anak yang belum datang akhirnya datang juga dan segera masuk. Panitia pun segera menyuruh masuk siswa – siswa yang masih di bawah untuk masuk ke dalam bus. setelah semua siswa sudah masuk ke dalam bus. Bus 1 pun segera meluncur untuk menyusul bus yang sebelumnya. Tujuan kami selanjutnya adalah Dufan.


BAB V
DUNIA FANTASI


A.    Sampai di Dunia Fantasi

                                  Setelah menikmati keindahan Ancol, rombongan kami pun segera melanjutkan ke tujuan selanjutnya yaitu Dunia Fantasi atau sering kita sebut Dufan. Perjalanan menuju Dufan hanya memakan waktu sekitar 5 menit saja. Jarak Ancol dengan Dufan memang sangat dekat sehingga butuh waktu sebentar untuk sampai disana. Setelah bus kami sampai di area parkir dufan, saya dan teman – teman segera turun dari bus dan langsung menuju ke pintu masuk dufan ini. Saya memang sudah tidak sabar lagi unntuk masuk ke dufan ini. Saya ingin merasakan semua wahana yang extrem yang sudah disuguhkan oleh dufan ini. Setelah saya sampai di pintu masuk, saya segera mengambil tiket yang saya letakan di saku celana. Petugas pintu masuk Dufan ini sangat cantik, dan saya segera memberikan tiket kepada petugas yang cantik itu. Saya sempat melihat siswa dari kelas IX D yang sedang berdiri di pinggir petugas cantik itu, seteah saya lihat dengan seksama ternyata anak itu kehilangan tiket untuk masuk ke dufan ini. Mata anak itu berkaca – kaca seperti hendak menangis dan ketakutan. Petugas pintu masuk sempat berkata untuk mencari panitia rombongan supaya mengatasi hal ini. Namun saya sudah terlanjur masuk kke dufan ini dan tidak tahu cerita selanjutnya. Saya sangat kagum dan heran setelah masuk ke dalam sini. Pemandangan dan desain bangunan – bangunan yang ada disini sungguh luar biasa dan menakjubkan. Saya segera menuju ke wahana yang akan saya coba. Sebelum mencoba salah satu wahana disini, saya menungggu Abid di dekat pintu masuk. Namun setelah saya menunggu lama, ternyata Abid sudah berada jauh di depan. Sehingga pada saat itu saya hanya berdua yaitu saya dengan Nahar siswa kelas IX A. Suasana sekarang ini tergolong ramai dan cuacanya sangat mendukung.

B.     Menikmati Wahana – Wahana di Dufan

Kami berdua pun segera menuju ke salah satu waha yang kami tuju. Namun pada saat itu, saya agak bingung akan mencoba wahana mana yang terlebih dahulu. Berikut ini adalah beberapa wahana – wahana yang saya coba diantara lain :

1.      Hysteria



Wahana yang satu ini tergolong cukup extrem dan menegangkan. Saya bersyukur pintu masuk wahana ini tidak terlalu ramai. Pada awalnya saya merasa takut dan ingin membatalkan niat saya untuk mencoba wahana ini. Tetapi teman saya begitu ngotot untuk mengajak dan saya hanya terdiam ketakutan. Keringat dingin langsung mengucur dengan derasnya. Saat saya berada di area pengantrian, saya melihat ke luar dan melihat langsung manuisa – manusia yang dilontarkan ke atas begitu saja. Bulu kuduk saya langsung berdiri semua setelah melihat itu. Sedikit lagi antrian saya segera berakhir. Saya terus berdoa dan berdoa karena pada saat ini saya sangat merasa takut untuk mencobanya. Dan giliran saya pun sudah datang. Saya menuju ke tempat duduk hysteria dan segera mengunci pengamannya. Saya mulai gemetar dan ketakutan. Tiba – tiba saya merasakan mulai naik ke atas dengan perlahan dan dengan begitu saja saya dilontarkan ke atas dan dijatuhkan kebawah dengan begitu cepat dan dahsyat sekali. Saat saya dijatuhkan ke bawah saya sangat merasakan jiwa saya masih tertinggal di atas. Ekspresi brutal pun keluar dari wajah saya dengan begitu saja. Akhirnya penderitaan saya saat naik wahana hysteria ini selesai sudah, saya langsung membuka pengaman dan bergegas keluar dari area wahan hysteria ini. Saat saya berjalan ke luar, badan saya merasa sempoyongan dan merasa pusing sekali. Untung saja saat itu ada temn saya yang namanya Nahar siswa dari kelas IX A. Saat berjalan menuju pintu keluar, terlebih dahulu saya melihat hasil foto yaitu foto saat saya dan Nahar berada di atas hysteria tersebut. Saya langsung tertawa begitu saja setelah melihat foto tersebut. Petugas di pintu keluar tersebut menawarkan untuk mencetak foto – foto tersebut untuk dijadikan kenang – kenangan dan saya tnpa berfikir panjang menyetujui usulan tersebut. Saya begitu bingung dan merasa sangat heran kenapa foto wajah saya begitu sangat brutal dan sangat abstrak tidak beraturan. Petugas tersebut pun segera mencetak foto kami berdua. Saya dan Nahar memilih foto yang berukuran kecil yng harganya Rp 35.000,00 sedangkan yang besar harganya Rp 50.000,00. Kami berdua memilih yang harganya lebih murah. Akhirnya foto tersebut berhasil dicetak dan kami berdua segera keluar untuk mencoba wahana selanjutnya. Setelah keluar dari wahana hysteria ini, saya melihat Abid dan teman – temannya dan mengajak kami berdua untuk mencoba wahana arum jeram. Pada awalnya kami semua memang tidak tahu dimana lokasi arum jerang itu. Daripada kami bingung, saya berinisiatif untuk tanya kepada salah satu petugas kebersihan di dufan ini. Setelah saya bertanya, ternyata wahana arum jeram sedang ditutup dikarenakan sedang ada pembaruan. Kami nampak kecewa setelah mendengar kabar seperti itu. Selanjutnya kami beranjak pergi pergi untuk mencoba wahana yang lainnya.

2.      Halilintar


        Wahana halilintar termasuk wahana yang cukup extrem di Dufan ini. Saya harus rela mengantri panjang demi mencoba wahana yang menantang ini. Pada awalnya banyak teman – teman saya yang putus asa dan memilih hanya menonton saja. Namun tiba – tiba mereka akhirnya masuk juga karena rasa penasaran yang luar biasa. Waktupun terus berjalan dan antrian pun semakin pendek. Kira – kira waktu yang dibutuhkan untuk mengantri sekitar 20 menitan. Saya sempat melihat saat kereta halilintar ini berjalan. Saya lebih mengenalnya dengan sebutan rouller coster. Rouller coster ini pada saat awalnya hanya berjalan dengan kecepatan yang sangat lambat. Dan begitu saja terpental dengan cepat sekali hampir sama kecepatannya dengan hysteria yang baru saja saya coba. Akhirnya giliran saya untuk naik. Setelah saya naik saya langung mengunci pengaman yang berada tepat di depan dada saya. Namun saya merasa pengaman itu tidak berfungsi dan hanya berfungsi sebatas pelindung dada yang tiddak terkunci. Namun pikiran saya itu salah. 5 detik sebelum kereta luncur ini berjalan saya mendengar suara yang berasal dari pengaman ini. Setelah saya periksa ternyata pengaman ini sudah terkunci sebagaimana mestinya. Saya merasakan kereta luncur ini berjalan lambat dan kemudian kecepatannya mulai bertambah dan kereta luncur ini tiba – tiba berjalan miring namun masih berkecepatan sedang dan mulai naik ke atas dan akhirnya meluncur ke bawah dengan kecepatan yang luar biasa dahsyatnya. Tidak hanya itu saja, rintangan berikutnya pun tidak kalah menarik yaitu berputar diudara dengan kecepatan yang luar biasa cepatnya. Setelah rintangan berputar di udara, akhirnya kereta luncur berhenti dan pengaman tiba – tiba terbuka dengan sendirinya. Setelah itu saya keluar dari arah kiri dan melewati percetakan foto seperti yang ada di wahana hysteria tadi. Namun hasil foto di wahana ini tidak sebagus seperti yang ada di hysteria. Kami berdua pun segera keluar ke arah pintu keluar dan melanjutkan ke wahana selanjutnya yaitu wahana bianglala.

3.      Bianglala



        Setelah keluar dari wahana halilintar tadi, kami pun langsung berjalan menuju wahana bianglala. Setelah berjalan lumayan jauh, akhirnya sampai juga di wahana  ini. Antrian disini lumayan tidak terlalu panjang. Lokasi pengantrian bianglala ini sungguh indah. Bangunan yang berarsitektur seperti bangunan China pada umumnya. Serba merah dan atapnya sangat khas dengan bangunan China. Saya sempat melihat anak yang tidak sabar menunggu antrian dan akhirnya keluar juga namun beberapa saat kemudian akhirnya masuk kembali. Setelah berada di dalam, saya melihat ke arah atas dan luar biasa indahnya dan besarnya. Akhirnya saya sampai juga di tempat untuk naik bianglala ini. Sebelum saya naik, para petugas wahana bianglala ini membagi – bagi jumlah orang untuk dinaikkan ke salah satu tempat di bianglala ini. Kincir angin ini  berputar dengan kecepatan yang stabil yang artinya kecepatannya tidak berubah – ubah. Bianglala ini tidak seperti bianglala yang berada dipasar malam. Kalau di pasar malam, kecepatannya dapat berubah – ubah sesuai yang diinginkan oleh petugas, namun di bianglala dufan ini tidak. Akhirnya putaran kincir angin raksasa ini berhenti juga dan kami pun segera menaiki tempat yang sudah disediakan. Pada saat itu tempat yang saya duduki berisi 6 orang yang diantaranya 4 anak dari rombongan kami dan 2 orang pengunjung lainnya.

Kincir ini terus berputar dengan lambat dan akhirnya kami sampai di titik paling atas dan sempat berhenti sebentar. Saat kincir angin ini berhenti, tiba – tiba tempat yang saya duduki berputar karena diputar oleh salah satu pengunjung laki – laki. Sontak saya langsung berpegangan erat di pegangan dan beberapa memejamkan mata karena saya pada saat ini sangat merasa ketakutan. Memang saya akui, saya termasuk anak yang takut dengan ketinggian. Saat sedang diputar – putar akhirnya kincir angin ini kembali berputar dan saya merasa lega sekali. Saya melihat di sekeliling dan melihat semua wahana yang ada di Dufan dengan jelas. Saat putaran kedua, prngunjung 2 orang itu menyuruh kami untuk biasa – biasa saja dan malahan menyuruh kami untuk berfoto – foto. Sempat beberapa kali pengunjung 2 orang itu juga befoto – foto dengan asyik dan tidak memperdulikan keadaan sekitarnya. Pada putaran ke 3 saya ingin benar – benar melihat dan memperhatikan dengan jelas jenis – jenis wahana yang ada disini. Pemandangan Ancol pun juga terlihat dari atas. Saya juga melihat betapa banyaknya pengunjung yang memadati tempat ini. Saya melihat satu wahana yaitu wahana tornado, saat itu wahana ini sangat sepi dan wahananya dijalankan namun tidak ada yang menaikinya. Dan saya sempat mendengar pembicaraan dua orang pengunjung itu yang mengatakan wahana tornado itu berbahaya dan jika akan menaiki wahana ini ada salah satu kursi yang harus dikosonginya. Saya pun agak ketakutan untuk mencoba wahana tornado setelah mendengar pembicaran 2 orang pengunjung ini. Pada putaran ke 4 saya sudah merasa bosan dan benar – benar ingin berhenti dan keluar untuk melanjutkan dan mencoba wahana yang lainnya. Akhirnya pada putaran ke lima kincir angin ini berhenti dan saya pun segera turun karena sudah sangat merasa bosan dengan wahana biang lala ini. Saya tidak memperdulikan sama sekali hasil foto yang berada di pintu keluar karena pada saat itu saya sangat kebelet dan ingin sekali buang air kecil.

        Setelah keluar dari area wahana ini, kami berdua sama – sama ingin pergi ke toilet dan kami pun segera mencari toliet. Saya sempat melihat teman – teman dekat saya dan mengajaknya bergabung. Namun saya sangat kebelet dan akhirnya saya hanya memanggilnya saja dan melanjutkan berjalan menuju toliet. Pada saat ini saya tidak tahu lokasi toilet yang ada disini. Kami berdua hanya berjalan menyusuri jalan yang hanya disini. Setelah berjalan lumayan jauh dan lumayan lama. Kami berdua tidak menemukan toilet dan hanya menemukan toilet wanita. Saya pun memberanikan diri untuk bertanya kepada salah satu petugas kebersihan yang sedang menyapu di area ini. Setelah saya bertanya akhirnya petugas kebersihan ini menunjukan arah yang menuju ke toilet, dan saya pun berlari langsung menuju ke toilet karena ras kebelet yang sudah tak tertahankan lagi. Akhirnya saya berhasil masuk ke toilet dan merasakan rasa lega yang luar biasa hebatnya. Kami berdua sempat mencuci muka kami karena sudah terlihat sangat kusam dan agak berminyak. Untung saja di toilet ini tidak dikenakan biaya alias gratis. Setelah selesai, kami pun segera meluncur keluar untuk mencoba wahana yang lainnya. Saya sangat ingin bertemu dengan teman – teman dekat saya untuk berkumpul bersama dan mencoba wahana yang ada disini bersama. Dan saya pun segera menuju ke tempat dimana saya melihat teman – teman saya. Namun setelah saya menuju ke tempat dimana saya melihat mereka, mereka sudah tidak ada lagi dan saya terpaksa harus berduaan terus dengan Nahar. Saya sangat ingin mencoba wahana Ice Age dan akhirnya kami berdua pun seera menuju ke wahana ini.

4.      Ice Age Adventure


           
        Dari awal masuk ke Dufan ini, mata saya langsung menuju ke arah wahana ice age ini. Dan akhirnya, saya akan mencoba wahana ini. Antrian di wahana ice age adventure ini memang antrian yang terpanjang dari wahana – wahana yang saya coba sebelumnya. Kami berdua langsung masuk ke dalam area pengantrian di wahana ini. Sungguh luar biasa panjangnya antrian yang ada disini. Saya sempat melihat banyak sekali pengunjung yang putus asa dan keluar dari area pengantrian ini. Namun saya sangat penasaran dengan wahana ini dan saya pun rela menungu lama untuk mencoba wahana ini. Waktu pun terus berjalan dan antrian di belakang saya semakin banyak juga meskipun didepan saya juga sangat banyak pengunjung yang sedang mengantri. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya saya berhasil masuk ke dalam wahana ini. Dan saya pun sangat senang akhirnya bisa mencoba wahan ini. Namun dugaan saya selama ini salah total. Setelah saya masuk ke dalam bangunan ini bukan berarti langsung mencoba wahana yang ada didalmnya namun didalam bangunan yang cukup besar ini, kami semua juga harus tetap mengantri. Saya sangat merasa tertipu dan sangat lelah dari tadi hanya menunggu dan menunggu terus. Antriannya pun hanya bergerak sangat lambat dan jika di ibaratkan seperti kemacetan parah di Jakarta. Suhu di dalam bangunan ini sangat dingin dan cahayanya juga lumayan gelap seperti berada didalam gua. Waktu untuk mengantri wahana ini kira – kira membutuhkan waktu sekitar 30 menit kurang. Waktu tersebut jika untuk mecoba wahana lain dapat mencoba sekitar 3 wahana. Namun sudah tidak dapat dipungkiri lagi saya harus bersabar demi wahana yang indah ini. Akhirnya waktu yang sudah saya tunggu – tunggu datang juga. Saya berhasil sampai di inti daripada wahana ini. Saya sempat merasa keheranan ternyata wahana ini seperti sebuah perahu yang berjalan lambat dan menikmati kejutan secara tiba – tiba yang mengagetkan. Petugas wahana ice age adventure pun segera membagi – bagi pengunjung karena dalam satu perahu hanya dapat menampung sekitar 9 orang. Rombongan 9 orang yang saya berada didalamnya segera disuruh untuk menaiki perahu yang sudah berhenti tepat di depan mata saya. Saya segera menaiki perahu ini. Setelah sudah naik semua, perahu ini pun berjalan dengan kecepatan yang tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Air yang ada disini sangat dingin dan beberapa kali saya sempat menggigil karena kedinginan. Penumpang perahu yang saya tumpangi juga sempat mengatakan hal yang sama seperti yang saya ucapkan. Mereka juga sempat memuji tempat ini karena keindahannya. Pada awalnya saya mengeluh karena sudah terlalu lama mengantri dan memang jika semakin panjang antrian semakin bagus jua wahana yang diantrinya. Saya sangat akui arsitektur dalam bangunan sangat indah dan sangat realistis yang artinya sama seperti yang aslinya. Seperti yang saya duga, disini juga terdapat gambar – gambar yang tiba – tiba muncul yang dapat membuat saya kaget begitu juga penumpang yang lainnya.

 Tiba – tiba perahu kecil ini naik dengan perlahan lahan dan akhirnya sampai juga diatas. Setelah sampai diatas, saya juga sempat terkaget karena ada cahaya yang datang dengan tiba – tiba. Ternyata cahaya itu adalah blits kamera yang tersembunyi. Untung saja blits kamera itu menyala dua kali. Cahaya yang pertama menandadakan para penumpang untuk bersiap gaya narsis dan cahaya yang kedua adalah untuk memotretnya jalur yang ada didalam ini cukup panjang karena hanya berputar – putar saja. Kami disuguhkan oleh sebuah tokoh yang ada difilm ice age diantara lain seekor mamot dan singa yang sedang bergerak – gerak persis seperti aslinya. Setelah itu saya melihat tulisan yang bertuliskan ‘’segera berpegangan di peangan karet yang sudah disediakan karena kereta perahu akan segera meluncur’’. Setelah saya membaca tulisan dari kejauhan, kami semua dikagetkan oleh seekor dinasaurus yang sangat besar yang tiba – tiba mucul dihadapan kami. Setelah di kejutkan oleh dinasaurus tadi, tidak lama kemudian perahu yang kami naiki meluncur kencang ke arah bawah dengan kecepatan yang sangat cepat. Sontak semua penumpang berteriak histeris ketakutan dan kaget. Dan saat perahu sampai kebawah, air yang tertabrak perahu langsung membasahi baju saya. Memang pada saat itu saya duduk di paling depan. Saat perahu ini meluncur, luncurannya sangat mirip dengan wahana halilintar atau roller coster. Saya sangat terkaget dan histeris saat perahu ini meluncur. Namun setelah tidak lama kemudian perahu ini meluncur, petualangan kami pun telah usai. Sempat beberapa kali pengunjung lainnya berteriak dan mengucapkan kata lagi dan lagi. Saya pun juga mengikutinya. Namun semua itu sia – sia. Setelah kami sampai di tempat pemberhentian perahu,semua penumpang turun dari perahu dan bergegas keluar dari arah kiri dari jalan yang sudah ditentukan. Saya sangat senang setelah mencoba wahana yang menakjubkan ini.

 Setelah kami berdua keluar dari wahana ini, saya melihat pengunjung di tempat ini sudah semakin berkurang. Pengantrian wahana ice age ini juga sudah ditutup karena wahana ini buka dari jam 2 siang sampai jam 6 sore. Dan saya pun jarang melihat anak – anak dari rombongan kami. Tidak lama kemudian setelah kami keluar dari wahana ice age ini, saya melihat rombongan kami dan saya pun bergegas untuk menghampirinya. Sempat beberapa kali saya dan teman – teman berfoto sejenak di depan wahana ice age dan wahana bianglala. Setelah berfoto sejenak, saya mendekati sebuah kipas angin besar yang mengeluarkan uap air dan saya berdiri didepannya. Alangkah segar dan dingin kipas angin disini. Saya lumayan lama berdiri di depan kipas angin besar ini sampai – sampai saya ditinggalkan oleh teman – teman saya. Semakin malam, pemandangan dan suasana Dufan ini justru semakin ramai dan gemerlap oleh lampu – lampu taman yang indah. Saat kami melewati jalan untuk keluar dari Dufan ini, saya sempat berhenti sejenak di sebuah panggung yang sedang mementaskan sebuah acara dangdut dan saya juga memotret salah satu penyanyi yang sedang berdiri di panggung tersebut. Setelah selesai memotret kami melanjutkan jalan untuk keluar. Namun ketika saya melangkahkan langkah selanjutnya saya melihat dua pasang badut dufan yang sedang bergoyang ria dan saya sempat ingin menghampirinya dan ingin mengajak badut itu untuk berfoto. Dan sayapun segera menghampiri badut tersebut dan mengajaknya untuk berfoto. Badut dufan itu sangat lucu dan besar jadi saya lumayan lama berfoto dengannya. Setelah mengambil beberapa foto bersama badut itu, saya disuruh untuk memfoto badut itu dengan teman – teman saya dan saya pun mengiyakannya. Setelah selesai berfoto ria dengan badut dufan, saya segera melanjutkan perjalanan untuk keluar dari dufan ini. Ketika sedang berjalan menuju pintu keluar, saya merasa haus dan ingin membeli minuman. Dan saya segera mencari penjual minuman di sekitar sini.. Tidak lama kemudian saya menemukan penjual minuman yang berada tepat di belakang pintu keluar Dufan. Saya pun membeli minuman tersebut dn meminumnya dengan lahap. Rasa hauspun yang ada di benak saya hilang seketika. Setelah minum air, saya segera berjalan keluar untuk menuju ke area bus.

                        Ketika saya keluar dari Dufan ini, saya disuguhkan dengan pemadangan lampu yang sangat indah dan gemerlap. Pada saat keluar, saya hanya berdua dengan Nahar. Kami berdua juga sempat membalikan badan dan melihat pintu masuk Dufan. Ternyata apabila malam, pintu masuk Dufan ini sungguh berbeda dibandingkan jika siang hari. Yang membedakannya adalah lampu – lampu penghias yang berada di setiap sudut bangunan ini. Kemudian kami berdua berjalan lagi menuju ke parkiran bus. Ada kejadian yang menyebalkan ketika kami sedang berjalan menuju ke parkiran yaitu seorang pedagang kaki lima yang sedang menjual dagangannya. Anehnya pedagang itu memaksa untuk membeli dan terus memaksa. Pedagang itu juga sempat mengikuti kami sambil menawarkan dengan cara yang tidak baik. Kami berdua tidak menanggapinya dan penjual itu pun pergi dengan sendirinya. Ketika sampai di bus, saya dan teman – teman duduk bersama di bawah bis untuk berfoto dan menunggu datangnya adzan maghrib. Beberapa lama kemudian, telinga kami mendengar suara yang begitu indah yaitu suara adzan dari salah satu masjid dekat area ini.

C.     Melaksankan Sholat Maghrib

Setelah terdengar suara adzan maghrib, semua siswa yang beragama Islam di suruh oleh panitia untuk melaksanakan sholat maghrib. Untung saja, di dekat area parkir bus terdapat mushola kecil dan kami semua berbondong – bondong enuju mushola itu.. namun pada saat itu saya masih terduduk di dalam bus entah karena lelah atau yang lain. Saya melihat ke arah bawah bus ternyata antrian wudlu sanga panjang. Dan saya memilih menunggu sampai antriannya tidak terlalu panjang. Kemudian saya segera turun dan menuju ke arah mushola tersebut. Meskipun jarak mushola dengan bus lumayan dekat, namun jalan yang dilewati harus berjalan memutar dikarenakan di sekitar area mushola ini terdapat pagar besi yang lumayan tinggi. Saya mengikuti teman – teman yaitu dengan melalui lubang kecil yang berada di bawah pagar besi ini. Setelah sampai di mushola saya segera mengambil air wudlu dan melaksanakan sholat maghrib. Setelah selesai melaksanakan sholat maghrib, tiba – tiba saya mencium bau yang sangat menyengat dan bau itu seperti bau sepiteng. Tidak hanya saya saja yang mencium bau tersebut tetapi teman – teman saya juga menciumnya.kemudian kami semua kembali ke bus kami masing – masing. Tidak lama kemudian, panitia menyuruh kami semua untuk naik ke bis dan bersiap – siap untuk makan malam dan melanjutkan perjalanan pulang.

BAB VI
PERJALANAN PULANG

A.    Makan Malam di Laut Biru

Setelah semua siswa sudah masuk ke dalam bus, bus kami pun segera meluncur menuju sebuah rumah makan. Rumah makan ini bernama rumah makan Laut Biru. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai di tempat ini tidak terlalu lama. Waktunya hanya sekitar 15 menit lebih. Jalan yang dilalui sungguh indah dan rapih. Terdapat banyak sekali lampu yang berwarna – warni dan berkelap kelip di mana – mana. Tidak lama kemudian bus kami berhenti dan panitia mengatakan sudah sampai di rumah makan Laut Biru. Semua siswa pun segera turun dari bus dan berjalan menuju rumah makan ini. Panitia memberi tahu antrian putri dan putra. Kebetulan antrian putra terdapat di ujung rumah makan ini. Saya segera menuju ke tempat antrian tersebut. Kami semua harus mengantri untuk mengambil jatah makanan. Saya mengambil sebuah piring dan sendok. Menu makanan yang ada di rumah makan ini tidak terlalu nikmat. Hanya satu buah daging ayam goreng dan sedikit sup yang berisi sedikit sayuran. Namun pada saat itu saya lumayan lapar dan segera makan dengan lahap. Tidak ada hitungn menit, saya sudah selesai menghabiskan makanan tersebut. Ketika saya sudah selesai makan, banyak teman – teman saya yang menuju ke utara. Saya pun mengikuti mereka. Tidak saya duga, ternyata rumah makan ini berada di tepi laut dan jaraknya pun dekat dengan laut. Kemudian banyak sekali teman – teman yang menuju ke tepi laut ini. Pemandangan disini sangat indah dihiasi oleh lampu – lampu taman yang banyak dan angin disini cukup kencang. Waktu untuk melaksanakan perjalanan pulang memang masih sekitar 1 jam lebih. Dan para siswa diperbolehkan untuk pergi menuju ke tepi laut tersebut. Di pinggir laut, tentu saja saya dan teman – teman mengabadikan momen – momen indah ini dengan berfoto bersama. Kemudian kami semua menuju ke arah timur karena di sana terdapat sebuah jembatan namun jembatan itu tidak sampai ujung hanya setengah saja. Tempat itu pun sangat cocok untuk di jadikan latar belakang untuk berfoto oleh kami. Di tempat ini banyak sekali orang – orang yang sedang berpacararan. Tidak hanya kami saja, banyak pengunjung lain yang memanfaatkan objek indah ini untuk berfoto. Angin disini lebih kencang dibandingkan di tempat  yang tadi. Namun suasana disini sungguh indah dan dapat membuat hati kami lega. Kami semua sudah cukup lama dan merasa lelah. Akhirnya kami duduk bersama di pinggiran jembatan ini dan melihat pemandangan yang inda di sekitar sini. Di sebelah selatan jembatan ini terdapat gedung yang menjulang tinggi. Gedung ini berkelap – kelip seperti bintang. Tidak lama kemudian, saya melihat teman – teman yang lain berjalan menuju ke arah bus. kami semua pun bergegas menuju ke bus. Namun ketika berjalan, kami masih sempat berfoto juga dengan berbagai model dan gaya. Sampai – sampai kami akan tertinggal oleh rombongan karena tengah asik berfoto. Ketika saya sampai di area parkir bus, saya melihat semua siswa sudah naik semua ke dalam bus. Untung saja saya tidak tertinggal oleh rombongan. Setelah semua siswa sudah naik semua ke dalam bus, rombongan kami segera meluncur untuk melanjutkan perjalanan pulang.

B.     Perjalanan Pulang

Kegiatan di Jakarta pun selesai sudah. Sekarang, kami semua akan melanjutkan perjalanan pulang. Saya merasa belum puas menjelajahi kota yang indah ini. Jalan yang kami tempuh untuk perjalanan pulang berbeda dengan jalan yang ditempuh ketika berangkat. Saat perjalanan pulang saya tertidur pulas dengan begitu nyenyaknya. Saya tertidur cukup lama. Teman – teman saya juga tertidur juga karena kelelahan akibta kegiatan – kegiatan yang dilakukan saat siang hari. Bus kami pun tampak sangat sepi. Tidak ada suara apapun yang ada di dalam bus ini. Beberapa jam kemudian saya terbangun karena bus berhenti. Ternyata bus berhenti di sebuah tempat oleh oleh yang berada di Jawa Barat. Sebenarnya saya masih sangat mengantuk. Dan saya pun hanya duduk di dalam bis saja. Beberapa saat kemudian saya diajak oleh teman saya untuk menemani membeli baju. Saya teringat karena saya juga akan membeli baju. Kami berdua pun turun dari bus untuk membeli baju. Setela kami turun, suasana disini cukup ramai meskipun sudah tengah malam. Kami melihat toko – toko disini yang menjual baju. Cukup banyak yang menjual baju disni. Kami pun menghampiri salah satu toko yang menjual baju. Setelah saya masuk, ternyata harga baju disini mahal – mahal dan kami berdua pun keluar karena selain mahal baju disini juga desainnya jelek. Kami pun mencari toko yang lain. Sama dengan toko sebelumnya, baju – baju disini harganya sangat mahal dan tidak sepadan dengan bahannya. Saya pun membatalkan niat saya untuk membeli baju. Sayapun pergi menuju toko makanan yang ada di sekitar sini. Banyak sekali penggunjung yng memadati toko ini. Dan saya pun segera memilih oleh – oleh. Seperti biasanya, saya hanya membeli setengah kilo dodol garut dan sebungkus makanan kering. Harga makanan disini juga tidak kalah mahal. Harga dodol per kilo sekitar Rp 60.000,00. Maka dari itu saya hanya membeli setengah kilo saja. Setelah membeli makanan ini saya menuju ke dalam bus. Oleh – oleh tersebut saya masukan ke dalam bagasi  bus yang berada di samping bus. Setelah semua siswa sudah masuk ke dalam bus, rombongan kami segera melanjutkan perjalanan pulang. Beberapa menit kemudian setelah bus ini berjalan, saya kembali tertidur pulas. Saat perjalanan pulang saya hanya tertidur dan tidak melihat pemndangan sekitar atau jalan yang dilewati bus kami. Saya terbangun sejenak karena terkaget oleh guncangan yang diakibatkan supir rem mendadak. Ketika terbangun, saya melihat jam menjunjukan pukul 2 dini hari. Tidak lama kemudian saya tertidur kembali. Suhu di dalam bus sangat dingin sekali. Badan saya dihiasi denngan jaket tebal dan sebuah sarung yang lebar. Namun semua itu tidak berpengaruh. Tetap saja saya kedingininan dan tidak disadari saya tertidur kembali.

 Tidak tahu kenapa, saat perjalanan pulang saya begitu nyaman untuk tidur tidap seperti pada saat berangkat. Kemudian saya sedikit mendengarkan suara adzan, namun saya mengira itu hanya mimpi saja. Saya pun sedikit membuka mata dan ternyata ini sungguh adzan subuh. Saya hanya membuka mata sebentar kemudian saya melanjtukan tidur kembali. Tiba – tiba kepala saya jatuh ke arah samping dan sontak saya terbangun. Ketika terbangun ternyata hari pun sudah pagi. Akibat dari kepala saya yang terjatuh, saya tidak bisa tertidur kembali. Jalan yang dilewati nampak sepi karena masih pagi. Pada saat itu waktu menunjukan pukul 5 pagi. Hari pun semakin terang seiringnya dengan berjalannya waktu. Panitia memberi tahu kami ternyata sekarang kami sedang berada di daerah Bumiayu dan sebentar lagi kan memaasuki wilayah Ajibarang. Jarak menuju rumah saya pun semakin dekat. Memang betul adanya, sekarang kami berada di daerah Ajibarang. Banyak sekali pedagang yang membawa dagangannya menuju pasar untuk dijual. Tidak lama kemudian, kami sampai di Purwokerto dan melewati lintasan kereta api. Panitia mengatakan jika siswa yang rumahnya dilewati boleh turun sekalian supaya tidak merepotka orang. Tidak saya sadari ternyata sekarang sudah sampai di Patikraja. Kemudian saya membereskan dan bersiap – siap untuk turun. Setelah sampai di jalan yang akan masuk menuju ke rumah saya, bus berhenti dan saya pun berpamintan dengan melambaikan tangan kepad semua yang ada di dalam bus dan segera turun. Saya menyuruh kernet bus untuk membuka bagasi mobil. Saya pun segera mengambil barang – barang saya yang berada di dalam bagasi dan kernet bus itu langsung menutup kembali. Bus pun kembali melaju untuk menuju ke sekolah.

C.     Sampai di Rumah

Jarak dimana tempat saya trun dari bus tadi ke rumah saya memang tidak terlalu jauh. Saya pun berjalan untuk menuju ke rumah. Setelah 5 menit kemudian, saya sampai di rumah. Ketika masuk rumah saya mengucapkan salam terlebih dahulu dan langsung menuju ke kamar dan meletakan semua barang bawaan. Setelah itu, saya segera masuk ke kamar mandi untuk cuci muka dan buang air kecil. Mata saya pun kembali mengantuk. Setelah keluar dari kamar mandi saya langsung masuk ke dalam kamar untuk berganti baju dan celana kemudian saya membaringkan badan saya di ranjang dan tidak saya sadari ternyata saya tertidur.





PESAN DAN KESAN

A.    Pesan

ð  Untuk semua teman – teman dan panitia supaya tetap menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Sempat beberapa kali saya melihat beberapa anak yang begitu mudah membuang sampai tidak pada tempatnya.
ð  Untuk teman – teman supaya tidak membuat keributan atu sesekali mengerjai teman yang lainnya. Karena hal itu dapat membahayakan kedua belah pihak. Dan supaya tidak ada hal – hal yang tidak dinginkan karena kita tidak berada di daerah kita sendiri.
ð  Untuk panitia study tour diusahakan dapat mengkoordinir jalannya kegiatan supaya pada saat kegiatan dimulai dapat berjalan dengan lancar serta memberi informasi harus jelas kepada siswa – siswanya supaya tidak ada hal – hal yang tidak diinginkan. Kemudian jika ada sesuatu apapun yang harus diralat, sesegeralah menginformasikan kepada semua siswa supaya siswa tidak merasa kebingungan.
ð  Untuk supir bus supaya dalam mengemudi tidak terlalu egois. Beberapa kali saya perhatikan, bus yang saya tumpangi sering menggunakan hak jalan pengemudi lain. Hal itu dapat beresiko fatal. Selain itu, para supir harus menaati setiap pertauran dan rambu – rambu lau lintas.
ð  Untuk kita semua, kita harus senantiasa menjalankan kewajiban kita sebagai siswa yang benar dan sebagai pendamping yang benar. Selalu menjaga diri kita masing – masing serta berdoa kapanpun dan dimanapun kita berada. Kita juga harus selalu menjaga kesehatan fisik dan tidak boleh memaksakan sesuatu yang tidak bisa diri kita lakukan.

B.     Kesan

ð  Saya mendapatkan sejuta informasi dan pengalaman setelah mengikuti kegiatan widya wisata ini. Semoga informasi dan pengalaman yang kita semua dapatkan dapat berguna dalam kegiatan sehari – hari maupun bagi masa depan kita.
ð  Dalam kegiatan widya wisata ini, kita semua dapat meningkatkan kemandirian diri kita sendiri. Tidak selalu menggantungkan diri kepada orang lain.
ð  Kita semua juga dapat meningkatkan tali persaudaraan antar sesamanya.
ð  Kegiatan ini memberi kita pelajaran tersendiri dimana kita harus merasa senang, merasa takut, dan merasa sedih.
ð  Yang terakhir, saya sangat berterimakasih kepada semua teman – teman, panitia widya wisata karena sudah menjadi panutan yang baik. Berkat kalian dan kegiatan ini saya dapat meningkatkan tingkat kedisiplinan, kemandirian serta mental saya. Sekali lagi saya merasa sangat berterimakasih kepada kalian semua. Banggalah menjadi anak Indonesia !
KESIMPULAN
Setelah saya mengikuti kegiatan widya wisata tahun pelajaran 2014/2015 ini, saya menyadari bahwa kita harus bangga menjadi anak Indonesia. Karena Indonesia memiliki keindahan yang luar biasa. Kita juga harus senantiasa menjaga dan melestarikannya supaya tidak diambil oleh negara lain. Kita selalu senantiasa mendoakan proyek – proyek besar di kota yang bertujuan untuk memperindah suasana kota dan mencegah adanya lingkungan yang kumuh. Supaya banyak pelancong dari dalam negeri maupun luar negeri dapat mengunjungi tempat – tempat liburan yang berada di ibu kota ini. Sehingga pendapatan devisa negara dapat bertambah. Dan indonesia akan menjadi negara yang indah, bersih, nyaman, dan tenteram.

KRITIK DAN SARAN
Saya mengakui bahwa laporan karya yang saya buat memang tidak begitu memuaskan dan masih banyak yang menggunakan kalimat sederhana. Maka dari itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran bagi yang mebaca laporan saya ini. Kritik dan saran kalian sangat membantu bagi saya untuk meningkatkan mutu dan kualitas serta tata cara menulis sebuah laporan yang baik















Tidak ada komentar:

Posting Komentar